Pemkab Karanganyar Instruksikan Bangunan Cakar Ayam

Pemkab Karanganyar Instruksikan Bangunan Cakar Ayam

- detikNews
Kamis, 29 Des 2005 01:56 WIB
Solo - Beberapa lokasi di Kabupaten Karanganyar selalu menjadi langganan bencana angin ribut tiap tahun. Untuk meminimalisasi kerugian, Pemkab menginstruksikan kepada penduduk di kawasan itu menebangi pohon besar di dekat pemukiman serta membangun rumah dengan konstruksi cakar ayam."Setiap tahunnya bencana angin ribut itu selalu melewati daerah-daerah tertentu yang sudah dapat diperkirakan, namun tidak mungkin kita menghilangkannya karena itu memang bencana alam yang tidak mungkin dihilangkan atau dikendalikan oleh kekuatan manusia," ujar Bupati Karanganyar Rina Iriani kepada wartawan, Rabu (28/12/2005). Dipaparkannya, angin puting beliung terjadi di daerah lembah yang diapit perbukitan. Hal itu disebabkan perbedaan amplitudo udara yang terjadi sangat cepat. Bencana itu akan datang di musim musim tertentu dan daerah tertentu secara periodik. Di Karanganyar, angin ribut puting beliung itu biasanya datang dari arah Wonogiri lalu memasuki wilayah Karanganyar. Daerah rawan atau yang biasa menjadi 'jalan bencana' itu di Karanganyar adalah Mojogedang, Jumatono, Kebakramat, Kerjo, Ngargoyoso, Jumapolo, Jatipuro, Jatiyoso dan Tasikmadu. Seperti yang terjadi hari Minggu lalu, setidaknya 39 rumah dan sejumlah tiang listrik rusak parah di Tasikmadu akibat parah akibat amukan angin. Karena itu, Pemkab merasa perlu memikirkan untuk meminimalisasi kerugian. Diantaranya adalah memerintahkan kepada warga untuk menebangi pohon-pohon besar yang tumbuh di dekat rumah maupun di lokasi-lokasi fasilitas publik seperti sekolah, masjid dan tiang maupun kabel listrik. Selain itu warga di daerah tersebut diminta untuk membangun rumah yang lebih kokoh dengan konstruksi cakar ayam. Tujuannya agar tidak mudah goyah atau rusak jika diterjang angin keras. Dengan demikian diharapkan angka kerugian di setiap tahunnya ketika terjadi bencana dapat ditekan. "Ini bukan pekerjaan mudah. Membutuhkan sosioalisasi yang cukup lama. Bagi warga yang baru akan mendirikan rumah mungkin kita bisa memberikan pengertian yang lebih cepat. Tapi bagi rumah-rumah yang telah lama berdiri akan lebih sulit karena mereka juga akan merasa enggan merubuhkan rumahnya untuk membangun cakar ayam tadi," kata Rina. "Sedangkan untuk korban jiwa, kami yakin warga sudah menyadari sepenuhnya kondisi yang mereka alami. Mereka akan dengan kesadarannya sendiri keluar rumah jika terjadi hujan deras yang disertai angin. Selama ini tidak pernah terjadi korban jiwa dan memang itu yang diharapkan semua pihak," lanjutnya. (ddn/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads