Solossa & Pattipi untuk Ubi Yahukimo
Kamis, 29 Des 2005 00:25 WIB
Jakarta - Meski sudah meninggal dunia, dua mantan Gubernur Papua, JP Solossa dan J Pattipi, masih mendapat tugas kehormatan untuk menuntaskan masalah rawan pangan di Yahukimo.Nama mereka diabadikan untuk dua varietas ubi unggulan yang akan ditanam di sana.Hal ini diungkapkan oleh Seskab Sudi Silalahi, saat memperkenalkan tiga jenis ubi jenis unggulan itu pada wartawan. Varietas ke tiga, tetap menggunakan nama aslinya, yaitu Umbi Cangkuang."Dengan segala hormat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menamakan ubi ini dengan mengambil nama mantan Gubernur Papua, yaitu Solossa dan Pattipi. Tentu setelah ini kami akan meminta ijin kepada keluarga masing-masing," ujar Sudi usai sidang kabinet paripurna malam ini di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (28/12/2005). Berdasarkan hasil penelitian, ubi yang ditaman di dataran Yahukimo selama ini, ternyata tidak lagi memenuhi kebutuhan pangan warga. Selain ukurannya yang kecil, masa panen yang lama dan rentan terhadap serangan hama.Tidak heran bila kualitas kandungan gizinya juga rendah. Padahal tidak mudah membuat warga Yahukimo mengalihkan konsumsi umbi-umbian sebagai makanan pokok ke beras atau kentang.Untunglah Prof. Mohamad Yusuf, menemukan solusinya. Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian ini berhasil menemukan tiga jenis varietas unggul umbi-umbian. Cangkuang, Solossa dan Pattipi akan ditanam di Yahukimo. "Ini sudah diuji coba untuk ditaman di Wamena dan hasilnya baik," jelas Sudi.Tiga jenis umbi tersebut memang jauh berbeda dengan umbi biasa. Selain warnanya yang putih bersemu merah muda, ukurannya pun raksasa. Yakni nyaris sebesar paha balita usia lima tahun.Dengan berat sekitar 3 kilogram per buah, Solossa merupakan ubi dengan ukuran terbesar. Disusul kemudian oleh Pattipi dan cangkuang dengan berat masing-masing kurang lebih 2 kilogram.
(ddn/)











































