MPR Sosialisasikan 4 Pilar Lewat Pagelaran Seni Budaya Sunda

Inkana Putri - detikNews
Senin, 06 Jul 2020 11:21 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Dalam suasana new normal, Pagelaran Seni Budaya Nasional diselenggarakan di Aula Pusat Pengembangan Islam Bogor (PPIB) di Jalan Pajajaran, Kota Bogor kemarin dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pagelaran ini sebagai salah satu metode Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Adapun peserta pagelaran ini merupakan masyarakat Kota Bogor yang jumlahnya dibatasi.

"Sayang, sekarang ini kita masih dalam suasana menghadapi pandemi Corona sehingga kita harus membatasi jumlah peserta. Tapi, untuk mereka yang tidak hadir bisa mengikuti acara ini lewat siaran live streaming di YouTube dan media sosial lainnya," ujar Kepala Biro Humas Setjen MPR RI Siti Fauziah dalam keterangannya, Senin (6/7/2020).

Menurutnya, MPR yang diberi amanat oleh Undang-Undang untuk menyelenggarakan Sosialisasi Empat Pilar MPR berkomitmen untuk terus mengangkat dan ikut melestarikan seni budaya daerah yang ada di Indonesia.

"Tekad itu ditunjukkan oleh MPR dengan memasukkan pagelaran seni budaya sebagai salah satu metode Sosialisasi Empat Pilar," ungkapnya.

Dalam penyelenggaraan Pagelaran Seni Budaya di Kota Bogor, MPR bekerja sama dengan Komunitas Iket Tatar Pakuan (Ki Tapak), sebuah komunitas seni Sunda yang hidup dan berkembang di Kota Bogor. Kesenian yang ditampilkan adalah Karinding dan Celempung, jenis kesenian Sunda yang sudah jarang diperlihatkan atau diperdengarkan.

"Alhamdulillah atas inisiasi anggota MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, kesenian Sunda ini bisa ditampilkan di Kota Bogor ini. Neng Eem memang sangat konsen terhadap pelestarian seni budaya daerah," katanya.

Selain seni budaya, dalam pagelaran ini, Neng Eem juga memperkenalkan kuliner lokal Kota Bogor yang punya historis, antara lain laksa, toge goreng, tutut tumis (keong sawah), talas kukus, es bir kotjok, dan es pala.

Sebagai narasumber, Neng Eem memaparkan pentingnya seni budaya daerah dan kuliner lokal dalam memperkuat identitas bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai salah satu kota penyangga Ibukota Jakarta yang dikenal sebagai kota metropolitan maka secara otomatis kota-kota penyangga juga ikut menjadi metropolis, dan akibatnya budaya pun semakin heterogen. Menurutnya, jika budaya lokal dan makanan lokal tidak dirawat maka akan punah.

"Untuk merawat dan menjaga agar budaya dan kuliner lokal ini tidak punah adalah menjadi tugas kita semua, terutama saya sebagai anggota MPR," ujarnya.

Neng Eem menjelaskan, salah bentuk merawat budaya dan makanan lokal adalah melalui kegiatan pagelaran seni budaya dan kuliner lokal Kota Bogor ini. Tujuannya agar masyarakat tetap mencintai seni budaya lokal dan kuliner lokal, khusus untuk Kota Bogor adalah seni budaya Sunda dan kuliner lokal Kota Bogor.

Lebih lanjut Neng Eem menyatakan, mencintai budaya dan makanan Sunda merupakan bentuk upaya mempertahankan identitas sebagai warga negara Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia dengan beragam budaya bangsa, budaya Sunda yang ada di Kota Bogor menunjukkan bagian dari kebhinekaan itu sendiri. Menurutnya, karena budaya inilah yang membuat Indonesia menjadi kuat dan kokoh.

"Jadi, kalau kita mencintai budaya lokal dan mencintai makanan lokal maka kita tak akan tercerabut dari akar budaya kita, dari identitas kita, dan tentu akan memperkuat identitas bangsa kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya

Adapun acara ini dibuka resmi oleh Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz dan didahului pembacaan ayat-ayat suci Alquran. Pembukaan ini ditandai dengan membunyikan alat-alat musik oleh Neng Eem, Siti, Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi Biro Humas MPR Budi Muliawan, anggota DPRD Kota Bogor Lusiana, Ketua Ki Tapak Abah Ukar Sukardi, dan tamu undangan lainnya.

(mul/ega)