Komisi X Tolak PJJ Permanen di SD-SMA, Ingatkan Aspek Pembelajaran

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2020 09:47 WIB
Jubir DPP PKB Syaiful Huda.
Foto: Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda (Dok. PKB)
Jakarta -

Komisi X DPR RI tak sepakat dengan wacana pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan secara permanen dan hybrid yang diungkap oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Komisi X meminta wacana itu dijelaskan secara gamblang.

"Ya saya kira kalau PJJ (permanen) itu di level perguruan tinggi nggak masalah lah, tapi kalau untuk SD, SMP, SMA, saya kira saya nggak setuju. Karena tentu nggak semua mata pelajaran bisa di-PJJ-kan," kata Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda, kepada wartawan, Jumat (3/7/2020).

Menurut Huda, pembelajaran jarak jauh hanya memenuhi dua dari enam aspek pembelajaran siswa dengan guru. Enam aspek tersebut adalah nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni berdasarkan Permendikbud Nomor 137 tahun 2013.

"Yang kedua, pembelajaran kan nggak hanya aspek transfer knowledge saja, kan pembelajaran itu menyangkut soal ada enam, kan ada enam aspek pembelajaran. Nah PJJ itu kan hanya memenuhi dua aspek," ucapnya.

Huda pun meminta wacana pembelajaran jarak jauh diterapkan secara permanen dan hybrid diperjelas konteksnya. Bila yang dimaksud permanen adalah transisi di tengah pandemi virus Corona, menurutnya hal itu dimungkinkan.

"Saya kira perlu diperjelas apa yang dimaksud permanen. Kalau misalnya itu dimaksud transisi pandemi ini mungkin itu juga konteksnya," ujar Huda.

"Saya kira harus ada konteksnya apa yang dimaksud permanen itu. Kalau yang dimaksud permanen itu selamanya ya nggak setuju, sangat tidak setuju," imbuhnya.

Sebelumnya, Mendikbud Nadiem Makarim mewacanakan pembelajaran jarak jauh diterapkan secara permanen dan hybrid. Kemendikbud menjelaskan soal wacana ini.

Wacana ini disampaikan Nadiem saat rapat kerja bersama dengan Komisi X DPR RI, Kamis (2/7). Pada saat itu, Nadiem bicara soal peta pendidikan Indonesia ke depan.

"Apa yang terjadi setelah COVID-19, setelah pandemi ini, ada beberapa hal perubahan struktural yang akan berdampak kepada peta jalan pendidikan kita, dan kepada sistem pendidikan kita. Yang pertama adalah pembelajaran jarak jauh ini akan merupakan menjadi sesuatu yang permanen, bukan pembelajaran jarak jauh saja yang pure, tapi hybrid mode menurut saya adaptasi terhadap teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi," kata Nadiem.

(rfs/jbr)