Peringati 7 Tahun Kerusuhan Poso, Warga Datangi Polda Sulteng
Rabu, 28 Des 2005 16:24 WIB
Palu - Sekitar 500 warga Kota Palu dan Poso, Rabu (28/12/2005) sejak pukul 11.00 Wita menggelar aksi massa memperingati 7 tahun kerusuhan Poso. Selain long march di sepanjang jalan protokol di Kota Palu, Sulawesi Tengah, mereka juga mendatangi Kantor Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah. Para demonstran mendesak agar polisi segera mengungkapkan sejumlah kasus kekerasan yang tak kunjung berhenti di Poso. Termasuk menangkapan para koruptor dana bantuan kemanusiaan untuk pengungsi.Aksi massa untuk memperingati 7 tahun berlangsungnya kekerasan demi kekerasan di Poso itu dimotori oleh Poso Center, aliansi dari sekitar 25 lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Sulteng. Sebelum membacakan tuntutan mereka, satu demi satu perwakilan kelompok massa itu berorasi menceritakan rangkaian kerusuhan yang meluluhlantakkan Poso sejak 28 desember 1998 hingga hari ini.Koordinator Poso Center Yusuf Lakaseng menyampaikan selama kerusuhan di kota itu, lebih dari 1000 orang meninggal dunia, 30 ribu orang harus mengalami gangguan jiwa, sekitar 17 ribu rumah dan bangunan umum hangus terbakar dan sekitar 98 ribu jiwa warga poso terlunta-lunta dalam pengungsian. Lalu setelah mereka kembali jatah hidup dan bekal hidup untuk mereka dikorupsi.Tak hanya itu akibat yang ditimbulkan oleh kerusuhan Poso. Simaklah data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, berikut ini; Sebelum konflik ada 2.156 perusahan bergerak yang mampu menyerap lebih dari 9 ribu tenaga kerja. Kini, sekitar 835 perusahan itu terpaksa ditutup, akibatnya lebih dari 3 ribu orang terpaksa menjadi pengangguran. Bahkan pada tahun 2004, BPS mencatat ada peningkatan 30,40 persen penduduk miskin. Karenanya, Poso Center mendesak polisi secepatnya mengungkapkan sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan warga sipil, polisi dan militer, serta menangkap para koruptor dana kemanusiaan. "Kami juga mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera membentuk tim gabungan pencari fakta untuk kasus poso. Nantinya tim itu melibatkan seluruh komponen masyarakat tidak hanya pejabat sipil, polisi atau militer," tandas Yusuf dalam orasinya.Setelah berorasi sekitar tiga jam di depan kantor Polda Sulteng dan Kantor Subernur Sulteng massa aksi kemudian membubarkan diri pada pukul 13.15 Wita.
(nrl/)











































