Bansos Beras Tidak Sesuai Standar, Bupati Bogor: Ini Mengecewakan

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 17:09 WIB
Bupati Bogor Rapat soal Bansos COVID-19
Foto: Sachril Agustin Berutu/detikcom
Bogor -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melakukan rapat terkait bantuan sosial (bansos) beras ke masyarakat selama pandemi COVID-19. Bupati Bogor Ade Yasin mengaku malu dan kecewa karena bansos beras yang diterima masyarakat tak sesuai standar.

"Ini yang mengecewakan kita tentunya ya, walaupun kita bekerja sama dengan BUMN (badan usaha milik negara) dan kita percaya, kita percaya dengan BUMN, tapi kenyataannya sepanjang pengiriman, setelah pengiriman memang tidak semuanya. Tapi dari sebagian itu pasti ada (beras) yang jelek," kata Ade Yasin di pendapa Bupati Bogor, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (3/7/2020).

"Ini kan terus terang saja saya malu, gitu. Secara pribadi saya malu, sebagai Bupati Bogor saya malu karena anggaran yang kita keluarkan tidak sedikit," lanjutnya.

Ade mengungkapkan banyak warga yang protes karena kualitas bansos beras yang dibeli dari Bulog adalah beras campuran dan berwarna kehitaman. Di tiap satu truk pengiriman, Ade memperkirakan ada 30-40 persen beras rusak.

"Bahkan ada beras yang tahun 2019 masih dicampur dengan yang baru. Yang impor bahkan dari 2018, sehingga beras tersebut berdebu, bahkan warnanya yang sudah hitam," ucapnya.

Dia pun menyebut Pemkab Bogor kerap di-bully masyarakat dalam bansos beras 30 kilogram yang dikirimkan selama 3 bulan. Dia pun tidak ingin bansos beras yang akan diterima warga kembali bermasalah.

"Kalau masih baru, mungkin orang masih maklum, mungkin Bupati tidak kontrol. Tetapi kalau kedua kali, ketiga kali (masyarakat menerima beras tak sesuai kualitas) dan sebagainya juga, ini Bupati bukan tidak kontrol, ini bodoh, gitu. Sudah tahu jelek tapi masih dipaksakan untuk kirim," ujarnya.

Ade ingin agar semuanya transparan. Dia juga berharap agar bansos diperbaiki sehingga masyarakat bisa menerima beras sesuai kualitas.

"Jadi jangan lagi terulang ada beras contohnya bagus tetapi di lapangan ternyata mengecewakan. Dan kita juga tidak mau juga terima beras 2018, sekarang sudah 2020. Jadi kita mau beli beras dari 2020, beras bagus, gitu, kualitas bagus dan layak makan," tandas Ade.

(maa/maa)