dr Reisa: Data Kemenkes, Banyak Kasus DBD di Wilayah Kasus COVID yang Tinggi

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 16:55 WIB
dr Reisa Broto Asmoro
Dokter (dr) Reisa Broto Asmoro. (Foto: BNPB)
Jakarta -

Dokter (dr) Reisa Broto Asmoro memaparkan soal kasus demam berdarah (DBD) yang saat ini juga meningkat kasusnya di Indonesia. Berdasarkan data Kemenkes, lanjut dia, banyak kasus DBD yang berada di wilayah kasus Corona tertinggi.

"Menurut laporan Kementerian Kesehatan, kasus DBD di Indonesia dari minggu ke 1 sampai minggu ke 27 tahun 2020, jumlah kasus DBD mencapai lebih dari 70 ribu kasus. Kasusnya tersebar di 34 provinsi dan 465 kabupaten kota dengan jumlah kematian DBD hampir 500 orang, jumlah kasus baru dan kematian terus bertambah. Puncak kasus DBD biasa terjadi menjelang pertengahan tahun seperti sekarang ini. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus COVID-19 yang tinggi seperti Jawa Barat, Lampung, NTT, JAwa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan," kata Reisa, Jumat (3/7/2020).

Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 itu mengatakan dengan kondisi tersebut memungkinkan pasien Corona berisiko terjangkit DBD. Untuk itu dia mengimbau agar masyarakat melakukan pencegahan terhadap penyakit DBD.

"Di tengah pandemi COVID-19 kita juga harus menekan angka kesakitan DBD, kita harus tetap bergerak memantau nyamuk baik secara mandiri, bersama-sama, maupun bekerja sama pemerintah. Apalagi di situasi pandemi ini para petugas kesehatan yang biasa memantau DBD melalui sistem door to door mendistribusikan larvisida kepada penduduk yang juga dikenal sebagai juru pemantau jentik atau jumantik menyebabkan kinerjanya terhambat selama pandemi," terangnya.

Reisa menyebut, untuk mencegah penyakit DBD diharuskan secara rutin melakukan pembersihan lingkungan paling tidak 1 bulan sekali. Untuk itu dia mengingatkan agar titik-titik seperti saluran air untuk segera dibersihkan.

"DBD berisiko menyebabkan kematian ketika penderitanya mengalami shock karena pendarahan. Hingga saat ini belum ada obat spesifik untuk menyembuhkan DBD, pemberian obat hanya untuk mengurangi gejalanya misalnya demam, nyerinya, serta mencegah komplikasi, selain itu penderita DBD disarankan untuk banyak istirahat dan cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi," tuturnya.

"Agar lebih efektif berkoordinasi lah dengan pihak pengelola lingkungan agar lebih efektif memberantas nyamuk di area pemukiman, terutama dimulai dari rumah anda sendiri," ujar Reisa.

(idn/imk)