Pernyataan Lengkap Pemerintah soal 60.695 Kasus Positif Corona Per 3 Juli

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 16:54 WIB
Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (dok. BNPB)
Foto: Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (dok. BNPB)

dr Reisa Broto Asmoro

Selamat sore saudara saudari, kasus demam berdara dengue atau dbd terus meningkat di indonesia, penyakit endemi ini situasinya semakin berbahaya di Indonesia terutama pada saat pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia yang masih berlangsung.

DBD adalah salah satu tantangan terberat pemerintah Indonesia, beban kesehatan masyarakat yang juga mengancam. menurut laporan Kementerian Kesehatan, kasus DBD di Indonesia minggu dari minggu ke 1 sampai minggu ke 27 tahun 2020, jumlah kasus DBD mencapai lebih dari 70 ribu kasus.

Kasusnya tersebar di 34 provinsi dan 465 kabupaten kota dengan jumlah kematian DBD hampir 500 orang, jumlah kasus baru dan kematian terus bertambah. Puncak kasus DBD biasa terjadi menjelang pertengahan tahun seperti sekarang ini. Kementerian Kesehatan republik Indonesia menyatakan wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus COVID-19 yang tinggi seperti Jawa Barat, Lampung, NTT, JAwa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

Fenomena ini memungkinkan seseorang yang terinfeksi COVID-19 juga beresiko terinfeksi DBD, pada prinsispnya sama upaya mencegahnya adalah menghindari infeksi dan untuk DBD gigita nyamuk.

Di tengah pandemi COVID-19 kita juga harus menekan angka kesakitan DBD, kita harus tetap bergerak mamantau nyamuk baik secara mandiri, bersama-sama, maupun bekerja sama pemerintah. Apalagi di situasi pandemi ini para petugas kesehatan yang biasa memantau DBD melalui sistem door to door mendistribusikan larvisida kepada penduduk yang juga dikenal sebagai juru pemantau jentik atau jumantik menyebabkan kinerjanya terhambat selama pandemi.

Kewajiban pembersihan lingkungan yang biasanya rutin dilakukan 1 bulan sekali terhambat karena pembatasan kegiatan masyarakat akibat masyarakat akibat merebaknya COVID-19. Sekarang kita mulai produktif kembali, maka perhatikan saluran air, tempat nyamuk bertelur, dan tempat-tempat dengan reservoir air. Waspadai DBD karena penyakit ini punya ciri-ciri sebagai berikut: gejala DBD tidak langsung muncul tapi membutuhkan waktu 4 sampai 10 hari setelah tergigit nyamuk yang membawa virus dengue, gejala paling umum DBD adalah demam tinggi hingga 40 derajat celcius yang disertai tubuh menggigil berkeringat dan gejala yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri tulang, ototnya juga sakit, mual, muncul bintik bintik merah pada kulit, hingga pendarahan pada hidung dan gusi.

Bintik bintik merah yang muncul pada kulit menandakan terjadinya pendarahan pada kulit akibat penurunan trombosit. DBD bisa berkembang menjadi kondisi berat dan merupakan kegawatan yang biasa disebut dengue shock atau DSS (dengue shock syndrome), gejalanya berupa muntah, nyeri perut, perubahan suhu tubuh dari demam menjadi dingin atau hypotermia, dan melambatnya denyut jantung.

DBD beresiko menyebabkan kematian ketika penderitanya mengalami shock karena pendarahan. Hingga saat ini belum ada obat spesifik untuk menyembuhkan DBD, pemberian obat hanya untuk mengurangi gejalanya misalnya demam, nyerinya, serta mencegah komplikasi, selain itu penderita DBD disarankan untuk banyak istirahat dan cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi.

Nyamuk aedes aegyepti lebih senang bersarang di air yang bersih yang dibiarkan tergenang, oleh karena itu lakukan langkah pencegahan. Salah satunya yang penting adalah melakukan 3M+, yakni menguras penampungan air bersih atau mengeringkan genangan air, menutup kolam atau penampungan wadah air, dan mengubur barang bekas atau mendaur ulang limbah bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk. Itu adalah langkah-langkah utama pencegahan DBD.

Agar lebih efektif berkoordinasi lah dengan pihak pengelola lingkungan agar lebih efektif memberantas nyamuk di area pemukiman, terutama dimulai dari rumah anda sendiri. Dalam adaptasi kebiasaan baru dimana kita menjalani kebijakan pengurangan waktu kerja, penggiliran hari kerja, dan penggantian hari berkantor, dan bisa bekerja dari rumah atau work from home, memberikan kita waktu melakukan pemberantasan sarang nyamuk di rumah dan lingkungan sekitar rumah kita. Salah satu yang paling efektif adalah jangan menggantung pakaian bekas pakai yang berpotensi jadi tempat bersembunyi nyamuk DBD dalam rumah, nah kebiasaan baru kita membersihkan diri setelah pulang di rumah sekaligus memastikan pakaian yang kita pakai setelah beraktifitas langsung dicuci. Sejalan dengan pemerintah untuk memberantas COVID-19 sekaligus mencegah DBD.

Seperti yang kita yakini dalam menangani COVID-19, apabila kita bersama-sama kita pasti bisa, begitu juga dalam membasmi DBD, mari lindungi diri kita, lindungi keluarga untuk melawan COVID-19 dan mencegah DBD, tetap sehat tetap semangat. Untuk selanjutnya saya persilahkan dr Achmad Yurianto untuk menyampaikan kinerja data COVID-19 hari ini.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3