Mengenal Aksara Bali, dari Sejarah hingga Jenisnya Lengkap

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 13:12 WIB
Peserta menuliskan aksara Bali di atas daun lontar dalam festival
Festival menulis aksara Bali (Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo)
Jakarta -

Aksara Bali sejak Oktober 2018 lalu wajib dipakai di kantor pemerintah dan swasta di seluruh Provinsi di Pulau Dewata. Ini menyusul dikeluarkannya Peraturan Gubernur tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Juga terkait Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Pencantuman aksara Bali ini diletakkan di atas huruf latin.

1. Bagaimana sebenarnya asal-usul aksara Bali ini?

Dalam buku, Modernisasi dan Pelestarian Perkembangan Metode dan Teknik Penulisan Aksara Bali karya I.B. Made Suasta dikemukakan aksara Bali tidak dapat dilepaskan dari perkembangan aksara di negara India.

Aksara ini dibawa oleh orang-orang India yang menganut agama Hindu ke Indonesia melalui politik perluasan koloni, perdagangan, agama, dan kebudayaan. Dalam kebudayaan India sendiri dikenal ada aksara tertua yang disebut Karosthi yang berkembang lagi jadi aksara Dewonegari dan aksara Pallowo.

Nah, aksara Dewanagari banyak digunakan di India bagian Utara untuk menulis bahasa Sansekerta sementara aksara Pallawa digunakan di India bagian selatan, dalam bahasa Pallawa. Kedua aksara ini masuk ke Nusantara melalui Sriwijaya. Kemudian memberi pengaruh sejalan dengan perkembangan agama Hindu dan Budha.

Dalam perkembangannya di Nusantara, kedua aksara ini lalu bertransformasi dalam bentuk baru yang disebut aksara Kawi. Menurut Made Suasta lagi, dari aksara Kawi ini terjadi perkembangan jadi aksara Bali dan aksara Jawa.

2. Pembagian aksara Bali

a. Berdasarkan fungsi

Ditinjau dari fungsinya, menurut I Gusti Ngurah Bagus, Guru Besar ilmu Antropologi Universitas Udayana, aksara Bali dapat dikelompokkan menjadi dua yakni aksara biasa dan aksara suci.

Aksara biasa digunakan untuk menulis bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menuliskan karya sastra. Ada dua aksara biasa yakni aksara Wreastra dan aksara Swalelita. Wreastra digunakan untuk menulis bahasa Bali umum. Sedangkan Swalelita untuk menulis bahasa Sansekerta.

Sementara aksara suci digunakan untuk menulis masalah-masalah yang berkaitan dengan keagamaan, seperti japa mantra, weda, rerajahan. Aksara suci pun dibagi dua yaitu aksara Wijaksara dan aksara Modre. Wijaksara digunakan untuk menulis hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan. Sementara Modre, merupakan aksara Bali untuk menulis yang bersifat magis.

b. Berdasarkan bentuk

Berdasarkan kesamaan bentuk, aksara Bali dapat dibagi menjadi tiga. Pertama bentuk pangawak yang juga disebut aksara Bali bentuk dasar. Kemudian aksara Bali bentuk turunan yang berasal dari aksara pangawak yang diubah jadi bentuk gempelan dan pangangge. Terakhir adalah aksara Bali bentuk lambang-lambang.

3. Berapa jumlah aksara Bali?

Banyaknya aksara Bali tergantung dari jenisnya. Misalnya saja aksara Wreastra terdiri atas 18 buah aksara yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya. Aksara-aksara ini merupakan konsonan. Beda lagi dengan aksara Swalelita yang punya 47 aksara terdiri dari aksara suara 14 buah dan aksara konsonan sebanyak 33 buah.

Sementara aksara Wijaksara lebih rumit lagi. Aksara jenis ini punya lebih dari 60 buah aksara. Kemudian aksara Bali yang paling sulit dibaca adalah aksara Modre. Karena aksara ini dilambangkan dengan gambar-gambar tertentu

(pal/erd)