Isu Pos Menteri Bergeser, NasDem: Kami Satu Tarikan Nafas dengan Jokowi

Elza Astari Retaduari - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 18:46 WIB
Sekjen NasDem, Johnny G Plate
Foto: Johnny G Plate (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Setelah video Presiden Joko Widodo marah saat sidang kabinet paripurna 18 Juni lalu tersebar, wacana reshuffle menteri pun semakin panas dibicarakan. Partai NasDem sebagai pengusung Jokowi-Ma'ruf Amin memastikan siap mendukung segala kebijakan presiden.

Sekjen NasDem yang Juga Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengungkap soal rapat sidang kabinet itu. Selain jajaran Kabinet Indonesia Maju, rapat tersebut juga dihadiri oleh pimpinan Bank Indonesia (BI), KPK, dan OJK.

Tentu konteksnya kepada peserta sidang kabinet itu sebagai kepala pemerintahan tapi begitu ini disampaikan kepada publik posisinya berubah, tidak saja sebagai kepala pemerintahan tetapi juga sebagai kepala negara," ujar Johnny kepada detikcom, Rabu (1/7/2020).

"Apa yang disampaikan bapak presiden tidak semata-mata hanya disampaikan kepada peserta sidang kabinet tapi itu juga ditujukan kepada seluruh komponen bangsa. Karena keadaan ini bukan keadaan biasa-biasa. Keadaan COVID-19 ini sudah keadaan yang luar biasa, harus diambil langkah-langkah luar biasa," imbuhnya.

Menurut Johnny, pernyataan Jokowi juga ditujukan untuk seluruh elemen bangsa. Mulai dari pihak legislatif, yudikatif, seluruh lembaga negara, tokoh-tokoh politik, tokoh masyarakat, ormas, pihak perguruan tinggi, dan media untuk mengatasi COVID bersama-sama.

"Karena ancamannya medis dan non-medisnya luar biasa, khususnya ekonomi tekanannya luar biasa itu di sektor ekonomi. Kalau kita tidak benar jaga dan bergerak cepat, maka kita akan berdampak. Bapak presiden kan tidak mau berdampak. Selagi masih bisa dikendalikan dan cepat," tutur Johnny.

"Jadi konteks yang tadinya ada di dalam sidang kabinet, sekarang diumumkan itu berarti address to the nation. Kepada bangsa dan negara sebagai kepala negara. Itu perspektif NasDem ya," sambungnya.

Soal mempertimbangkan membubarkan lembaga hingga melakukan reshuffle, Johnny menyebut Presiden Jokowi serius menyampaikan hal tersebut. Ia memastikan NasDem siap mendukung kebijakan apapun yang diambil Jokowi.

"Itu serius lho ngomongnya begitu sebagai kepala negara dengan semua kewenangannya. Kalau soal reshuffle dari sisi NasDem, NasDem itu bersama bapak presiden. Satu tarikan nafas dengan kebijakan bapak presiden. Apa yang presiden lakukan tentu kami dukung sepenuhnya. Tapi ini domain presiden. Kita serahkan kepada presiden. Keputusan presiden, NasDem akan dukung sepenuhnya," jelas Johnny.

Dukungan juga akan diberikan NasDem bila Jokowi memutuskan melakukan pergeseran pos menteri. Hanya saja, kata Johnny, NasDem tak mau berasumsi macam-macam.

"Menggeser pos menteri, mengubah pos menteri, mempertahankan pos menteri, itu domain presiden. Kita dukung. Tetapi NasDem tidak berasumsi bahwa presiden melakukan reshuffle. Karena itu keputusan presiden," tuturnya.

NasDem terus berupaya agar leadership Jokowi di masa pandemi Corona ini tetap terjaga dengan efektif. Bukan hanya yang berada di kabinet, kader NasDem di pemerintahan daerah hingga anggota DPR dan DPRD disebutnya siap membantu Jokowi.

"Kami tentu berharap leadershipnya Pak Jokowi di dalam masa pandemi COVID ini dijaga agar tetap efektif. NasDem hadir untuk menjaga efektif manajemen dan leadership Pak presiden sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara," urai Johnny.

NasDem diketahui memiliki 3 menteri di kabinet Jokowi, termasuk Johnny. Dua menteri dari NasDem lainnya adalah Mentan Syahrul Yasin Limpo serta Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar.

Mengenai posisinya sebagai menteri, Johnny mengaku menyerahkannya kepada Presiden Jokowi. Johnny menyatakan kini bekerja untuk mewujudkan visi misi Jokowi saat Pilpres lalu.

"Kita hadir di sini kan sebagai pembantu presiden. Di awal pemerintahan Kabinet Indonesia Maju, ada visi misi presiden dan wapres yang kami kampanyekan sebagai partai pengusung, lalu menjadi visi dan misi negara. Nah itu tugasnya kita melaksanakan itu. Melaksanakan visi dan misi presiden," kata dia.

"Tapi kami tahu dalam mengambil keputusan, presiden mengambil keputusan soal anggota kabinetnya sebagai kepala pemerintahan tentu dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang," sambung Johnny.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi marah lantaran kurangnya sense of crisis di antara para pembantunya di tengah pandemi Corona. Ia menyebut dirinya telah mengkaji semua langkah untuk mengoptimalkan kinerja pemerintah, salah satunya dengan me-reshuffle para menteri yang menurutnya gagal paham soal sense of crisis.

Setelah video yang memperlihatkan kekecewaan Jokowi beredar pada 28 Juni lalu, isu reshuffle terus memanas. Lalu ada kabar kemungkinan pergeseran pos kursi menteri parpol.

(elz/imk)