Massa Geruduk Disnakertrans Sultra, Tuntut Transparansi Keahlian TKA China

Sitti Harlina - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 18:21 WIB
Mahasiswa mendatangi kantor Disnakertrans Sultra. Mereka menuntut transparansi soal keahlian TKA China (Sitti Harlina/detikcom)
Mahasiswa mendatangi kantor Disnakertrans Sultra. Mereka menuntut transparansi soal keahlian TKA China. (Sitti Harlina/detikcom)
Kendari -

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kendari mendatangi Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulawesi Tenggara (Sultra). Mahasiswa menyampaikan penolakan terhadap kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China di Sultra.

Koordinator aksi, Anis Mulsaban, meminta transparansi dari pemerintah terkait prosedur masuknya TKA. Mereka menyoroti soal bidang keahlian yang dimiliki para TKA.

"Kami meminta kepada Disnakertrans untuk transparansi terkait kualifikasi dan keahlian TKA asal China ini," kata Anis, Rabu (1/7/2020).

Menurutnya, perlu transparansi agar publik bisa mengetahui soal keahlian para TKA yang berjumlah 500 orang. Massa tidak mau jika ternyata, dari total 500 TKA itu, terdapat tenaga buruh yang diselipkan.

"Jangan sampai mereka ini hanya buruh kasar, misalnya mereka yang datang sebagai tenaga ahli tetapi yang kita dapatkan di lapangan sebagai buruh kasar," ujar dia.

Bukan hanya persoalan keahlian dari TKA, massa juga meminta pemerintah memperhatikan tenaga kerja lokal. "Kami juga meminta kepada pemerintah memanfaatkan sumber daya manusia yang ada di sini," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Disnakertrans Sultra Saemu Alwi menjelaskan kedatangan 500 TKA itu sudah memenuhi prosedur yang ada.

"Terkait TKA yang 500 ini, kami dapat jelaskan bahwa pada 4 Januari 2020 PT VDNI dan PT OSS telah mengajukan ke Kementerian Tenaga Kerja untuk mempekerjakan orang asing," kata Saemu Alwi.

"Lalu pada 7 April 2020 Kementerian Tenaga Kerja mengeluarkan RPTKA atau izin mempekerjakan orang asing. Kalau dari sisi regulasi, jika Kementerian telah mengeluarkan RPTKA, semua prosedur persyaratan telah memenuhi syarat," jelasnya.

Seperti diketahui, kedatangan 500 TKA di Sultra terus mendapatkan penolakan dari berbagai elemen, mulai mahasiswa hingga masyarakat. Kedatangan TKA gelombang pertama, yakni 23 Juni, berjumlah 156 orang dan kedatangan gelombang kedua telah tiba pada 30 Juni dengan jumlah 105 orang. Saat ini telah ada 261 TKA yang masuk ke Sultra.

(jbr/jbr)