Pabrik Kurma Ex Rektor Madinah (2)
300.000 Riyal Dikantongi Plastik
Rabu, 28 Des 2005 11:25 WIB
Jakarta - Perkebunan kurma milik mantan Rektor Universitas Madinah, Kholid Nuzhah, terus berkembang. Setelah mendirikan pabrik pengolahan dan pengepakan kurma dengan nama Al Nuzhah Dates Factory pada tahun 2000, perusahaan makin mengeruk untung. Di musim haji seperti ini, dari satu stand di depan pabrik saja, omset penjualannya bisa mencapai 300.000 Riyal per hari. Bila dirupiahkan, maka omset ini setara denan Rp 780 juta. Ini hanya berasal dari satu stand penjualan saja. Padahal, Al Nuzhah memiliki stand penjualan diPasar Kurma yang berada tidak jauh dari Masjid Nabawi. Juga ada cabang di Jeddah. "Kami juga melakukan ekspor. Dari Indonesia, importir terbesar adalah Fuad Bawazier. Kemarin Fuad Bawazier ambil lima ton untuk dijual di Surabaya," kata Husni, supervisor perusahaan ini saat ditemui di markas al Nuzhah di kawasan Quba, sekitar 700 meter dari Masjid Quba, Kamis (22/12/2005) lalu.Selain Indonesia, Al Nuzhah juga mengekspor kurmanya ke negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, Pakistan, Brunei, dan lain-lain. "Saya kalau pulang ke Indonesia, pasti mampir Singapura untuk memantau pasar," tutur Husni, pemuda dari Mataram yang memiliki rumah di Jakarta ini. Stand penjualan kurma di pabrik di Quba jadi andalan perusahaan di musim haji. Kamis (22/12/2005), sejak pukul 07.00-11.30 Waktu Arab Saudi, stand penjualan ini dijubeli pembeli. Sebagian besar pengunjungnya adalah jamaah haji asal Indonesia. Puluhan bus diparkir di lahan bekas perkebunan kurma yang kinidisulap menjadi tempat parkir. Menurut Husni, untuk memperbesar pangsa pasar, pihaknya memang bekerja sama dengan 4 majmuah (perkumpulan perusahaan hotel). Jadi, jamaah haji yangmenginap di hotel-hotel 4 majmuah ini akan otomatis digiring ke pabrik kurma Al Nuzhah. Empat majmuah yang mengikat kerja sama dengan Al Nuzhah adalah Elyas, Andalus, Al Ansar dan Al Abrar. Perusahaan ini juga melakukan kerja sama dengan penyelenggara haji BPIH Plus. Karena itu, sedikitnya dalam waktu dua bulan di musim haji, stand penjualandi pabrik ini akan digelontori riyal-riyal dari para pembeli. "Kami tidak hanya membuka di musim haji ini saja, tapi juga saat musim umrah," ungkap Husni. Di Bulan Ramadan, saat puncak musim haji, stand penjualan di pabriknya ini juga dijejali oleh para pembeli. Saat Ramadan, suasananya juga seperti dimusim haji ini. Stand penjualan berluas 20 x 20 meter ini mulai buka pukul 06.00 hingga pukul 11.30, menjelang waktu dhuhur. Sesi kedua akan dibuka setelah asar hingga menjelang magrib. Menurut Husni, omset penjualan sesi pertama dari pukul 06.00 hingga pukul 11.30 mencapai 300.000 Riyal. Meski beromset besar, namun manajemen pengiriman uang ke bank masih tampak tradisional. Uang-uang hasil penjualan sesi pertama ini dikumpulkan oleh Gholib Nuzhah, anak Kholid yang menjadi pimpinan diperusahaan ini. Setelah itu, uang itu diserahkan kepada Kholid Nuzhah. Yang menarik, uang 300-an ribu Riyal itu hanya dikumpulkan dan disimpan dalam kantong plastik kresek yang transparan. Lembaran-lembaran uang itu sangatjelas dilihat orang. Dengan menenteng uang berjumlah besar dalam kantong plastik itu, Kholid yang jenggotnya sudah beruban itu kemudian meninggalkanstand. Ke mana? "Ke bank," kata Husni. Menurut Husni, adat orang Arab memang seperti itu. Untuk mengirim uang sebanyak itu ke bank, tidak perlu dikawal petugas polisi. Kholid biasa mengirimkan uang itu ke bank sendirian saja ditemani sopir. Jarang, ada perampokan di tengah jalan. "Jangan difoto, syeikh tidak mau difoto," kata Husni kepada reporter detikcom Arifin Asydhad saat akan mengabadikan Kholid membawa uang dalam kantong plastik itu. Meski tidak mau difoto, Kholid tampak ramah. Dia melempar senyum kepada orang-orang yang datang ke stand penjualannya. Al Nuzhah Factory Dates hanya memiliki 80 tenaga kerja, 12 di antaranya adalah orang Indonesia. Tenaga kerja ini dipekerjakan di pabrik pengolahan danpengepakan dan di toko atau stand penjualan. Sedangkan pengelolaan kebun, termasuk saat mengawinkan bunga pohon jantan terhadap bunga pohon betina, perusahaan ini mengambil tenaga musiman. Foto:Stand penjualan kurma di pabrik pengolahan dan pengepakan kurma Al Nuzhah diserbu jamaah haji asal Indonesia.
(nrl/)











































