Ini Perkembangan Riset Vaksin Corona RI, Diprediksi Selesai Februari 2021

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 14:12 WIB
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Ejikman Prof Amin Soebandrio
Kepala LBM Eijkman Prof Amin Soebandrio (Citra Nur Hasanah/20detik)
Jakarta -

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Soebandrio menjelaskan perkembangan riset vaksin virus Corona (COVID-19) di Indonesia. LBM Eijkman telah berhasil mengkloning protein spike (S) untuk selanjutnya dilakukan penelitian pada mamalia.

"Dan beberapa versi gen S ini sudah berhasil dikloning kepada satu vektor yang basic dan setelah itu akan dikloning ditransfer, akan dimasukkan ke dalam galur sel mamalia. Sel mamalia itu misalnya dari Chinese hamster atau dari sel vero dari hewan-hewan. Nah, itu nanti untuk memudahkan proses pengembangan kami agar bisa cepat diterima oleh Bio Farma," kata Prof Amin dalam rapat di Komisi VII DPR, Rabu (1/7/2020).

"Kami memang sengaja menggunakan galur sel mamalia itu antara lain misalnya dari Chinese hamster dan itu sudah di-approve oleh WHO, sehingga tidak ada masalah lagi ketika akan digunakan untuk uji klinik pada manusia," imbuhnya.

Prof Amin menargetkan vaksin Corona itu akan selesai pada Februari 2021. Namun ia menyebut pihaknya akan berusaha agar vaksin untuk Corona bisa selesai lebih cepat.

"Harapan kami adalah Februari 2021 sudah bisa kami serahkan kepada industri. Walaupun kami menerima banyak permintaan agar proses ini bisa dipersingkat sampai dengan sebelum akhir 2020, kami tetap akan berusaha sekuat-kuatnya supaya ini bisa cepat selesai. Tapi ini prediksi kami akan selesai di Februari 2021," ujar Prof Amin.

Prof Amin juga mengungkapkan kendala riset vaksin Corona di Indonesia. Kendalanya berkaitan dengan ketersediaan reagen khusus.

"Beberapa kendala barangkali yang dapat kami share, pada umumnya reagen sudah tersedia tetapi ada beberapa reagen khusus yang sudah dipesan tapi masih dalam perjalanan dalam prosesnya untuk dikirim ke Indonesia," ungkapnya.

LBM Eijkman juga telah melakukan uji terkait terapi plasma konvalesen kepada 10 pasien COVID-19 di RSPAD Gatot Soebroto. Plasma konvalesen diharapkan bisa membantu pasien Corona yang kondisinya berat dengan pemberian plasma dari pasien yang sudah sembuh.

"Perkembangannya saat ini sedang dilaksanakan uji klinik di RSPAD, sudah ada 10 kasus yang menerima plasma konvalesen ini. Hasilnya adalah 8 orang dalam kondisi baik, yang 2 itu meninggal tapi keadaannya sudah sangat berat. Jadi meninggalnya bukan karena kegagalan plasma konvalesen," jelas Prof Amin.

"Dan saat ini Lembaga Eijkman sudah siap untuk melakukan pengujian untuk mengevaluasi plasma donor, apakah memang dia memiliki kemampuan untuk menetralisasi virus. Jadi ini untuk mengukur antibodi dalam plasma tersebut. Jadi ini sudah berjalan," ungkapnya.

(azr/gbr)