Laju Insiden COVID-19 Tertinggi di RI: Pertama DKI, Kedua Kalsel

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 13:32 WIB
Puskesmas Kecamatan Gambir aktif melakukan tes swab mencari orang tanpa gejala yang terinfeksi COVID-19. Mereka menyasar petugas PPSU dan para pedagang pasar.
ilustrasi swab test (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Dr. Dewi Nur Aisyah memaparkan 5 provinsi yang memiliki laju insiden atau insiden rate kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data tersebut, Provinsi DKI Jakarta menempati provinsi pertama yang memiliki insiden kasus tertinggi.

Insiden rate mengambil rumus membandingkan angka kasus positif per jumlah penduduk. Gugus Tugas memakai rasio per 100 ribu penduduk.

"Ini by provinsi nih kita bisa lihat yang tertinggi dan terendah, lagi-lagi kita lihat berdasarkan jumlah penduduknya DKI Jakarta pertama, yang kedua Kalimantan Selatan. Karena kita suka lupa, bukan Jawa Timur, bukan Jawa Barat, ini Kalimantan Selatan," kata Dewi, saat konferensi pers yang disiarkan dari YouTube BNPB Indonesia, Rabu (1/7/2020).

Petugas melakukan tes swab Corona di Pasar Sayur Cipulir, Jaksel, Kamis (25/6). Tes tersebut sebagai upaya untuk mengetahui persebaran virus Corona di daerah tersebut.Petugas melakukan tes swab Corona di Pasar Sayur Cipulir, Jaksel, Kamis (25/6). Tes tersebut sebagai upaya untuk mengetahui persebaran virus Corona di daerah tersebut. Foto: Ari Saputra

Dewi mengatakan angka tersebut merupakan data per 28 Juni 2020 berdasarkan jumlah penduduk. Setelah DKI Jakarta dan Kalimantan Selatan, posisi ketiga disusul Sulawesi Selatan, Papua, dan Kalimantan Utara yang merupakan provinsi dengan laju insidensi yang tinggi. Sementara itu di tingkat kabupaten/kota, insiden rate paling tinggi ada di Jakarta Pusat.

"Di sini misalnya kita melihat DKI yang paling tinggi Jakarta Pusat. Yang kedua Kota Makasar peringkat keduanya ini per tanggal 28 Juni 2020," kata Dewi.

Kemudian, insiden rate tertinggi di kabupaten kota selanjutnya disusul Kota Surabaya, Jayapura, dan terakhir Banjarmasin. Dewi mencontohkan misalnya angka kasus positif di daerah A, B dan C sama yaitu 50 orang positif, tetapi yang membedakan adalah jumlah penduduknya.

Ia memaparkan apabila jumlah kasus positif di daerah A dan B sama-sama 50 orang, tetapi jumlah penduduk di daerah A sebanyak 200 orang, sedangkan di daerah B jumlah penduduknya 120 orang. Maka laju insidensinya lebih tinggi di di daerah B.

"Jadi misalnya ada kabupaten A dan B sama-sama 50, tapi ternyata jumlah penduduk di kabupaten A cuma 200, di kabupaten B jumlah penduduknya 120. Nah ternyata kalau kita bilang laju insidensinya adalah atau bahasanya adalah insiden kumulatif kalau di tempat daerah A ini berarti jumlah orang positif 25 orang per 100 orang penduduk, sedangkan di daerah B karena jumlahnya lebih sedikit dia lebih tinggi 41 orang per 100 penduduk. Artinya apa dari 100 orang 41 penduduk sudah posiitf misalnya," ujarnya.

Ratusan warga di kawasan Tanah Abang mengikuti tes swab massal. Tes itu diselenggarakan sebagai salah satu upaya pendeteksian dini virus Corona.Ratusan warga di kawasan Tanah Abang mengikuti tes swab massal. Tes itu diselenggarakan sebagai salah satu upaya pendeteksian dini virus Corona. Foto: Agung Pambudhy

Dewi mengatakan angka kasus positif juga harus dilihat dengan jumlah spesimen yang diperiksa. Semakin besar jumlah tes yang dilakukan, maka seharusnya angka positivity ratenya semakin rendah.

"Interpetasi yang kedua adalah semakin besar jumlah tes yang kita lakukan maka nanti seharusnya angka positivity ratenya pun akan semakin rendah. Jadi kalau istilahnya dalam rangka survailance gitu ya kalau orang yang diperiksa hanya orang orang sakit pasti positifnya lebih tinggi, ketika angka positif kita semakin turun itu artinya kita mulai mencoba memeriksa orang-orang yang mungkin bahkan nggak punya gejala, makanya tadi lebih tinggi pemeriksaan orang-orang yang mungkin resikonya lebih kecil atau gejalanya nggak ada kita periksa, maka angka positifnya akan jauh lebih rendah karena orang yang diperiksa makin banyak," ujarnya.

Berikut ini data 5 provinsi dengan insiden kasus tertinggi:

1. DKI Jakarta (82,78 per 100 ribu penduduk)
2. Kalimantan Selatan (46,9 per 100 ribu penduduk)
3. Sulawesi Selatan (30,13 per 100 ribu penduduk)
4. Papua (28,78 per 100 ribu penduduk)
5. Kalimantan Utara (26,22 per 100 ribu penduduk)

Berikut ini data top 10 kabupaten/kota dengan insiden kasus tertinggi:
1. Jakata Pusat, DKI (227,78 per 100 ribu penduduk)
2. Kota Makassar, Sulsel (204,53 per 100 ribu penduduk)
3. Kota Surabaya, Jatim (194,59 per 100 ribu penduduk)
4. Kota Jayapura, Papua (184,8 per 100 ribu penduduk)
5. Kota Banjarmasin, Kalsel (182,98 per 100 ribu penduduk)
6. Kota Manado, Sulut (169,86 per 100 ribu penduduk)
7. Luwu Timur, Sulsel (164,13 per 100 ribu penduduk)
8. Kota Mataram, NTB (151,37 per 100 ribu penduduk)
9. Kota Ambon, Maluku (145,85 per 100 ribu penduduk)
10. Kota Palangkaraya, Kalteng (131,2 per 100 ribu penduduk).

Tonton video 'Pandemi Corona Memicu Krisis Pangan Dunia':

(yld/isa)