PKB Tak Masalah Pos Menterinya Digeser: Asal Lebih Strategis

Elza Astari Retaduari - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 13:10 WIB
Daniel Johan
Daniel Johan (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo mengisyaratkan akan melakukan reshuffle kabinet lantaran kurangnya sense of crisis para menterinya di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). PKB yang berada di Kabinet Indonesia Maju menyebut tak masalah bila pos menterinya diubah.

"Kalau saya nggak apa-apa selama lebih strategis, artinya itu amanah dan kepercayaan untuk mengabdi lebih luas," ungkap Ketua DPP PKB Daniel Johan kepada wartawan, Rabu (1/7/2020).

PKB memiliki 3 menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin, yakni Menaker Ida Fauziyah, Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar, dan Mendag Agus Suparmanto. Daniel menyebut soal urusan pos menteri, biasanya akan didiskusikan antara Jokowi dan para ketum parpol koalisi.

"Kita serahkan komunikasi pres ke ketum partai koalisi," sebut Wakil Ketua Komisi IV DPR itu.

Soal ancaman reshuffle oleh Jokowi, Daniel menilai memang diperlukan sosok berdedikasi tinggi dalam menangani pandemi Corona. Dia mengatakan perlu banyak sosok visioner untuk membantu Presiden Jokowi.

"Memang siapa pun menterinya nanti memang tidak mudah, tantangan kondisi sangat berat, sehingga figur yang memiliki dedikasi, kerja keras, dan berani melakukan terobosan-terobosan, yang visioner maupun taktis sangat diperlukan," kata Daniel.

"Yang mampu mengkonsolidasi para pihak untuk bergerak bersama mencapai tujuan, dan saya rasa itu sepenuhnya kita serahkan kepada presiden dengan masukan dan komunikasi bersama para ketum partai koalisi," lanjutnya.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi marah lantaran kurangnya sense of crisis di antara para pembantunya di tengah pandemi. Tanpa tedeng aling-aling Jokowi menyebut dirinya telah mengkaji semua langkah untuk mengoptimalkan kinerja pemerintah, salah satunya dengan me-reshuffle para menteri yang menurutnya gagal paham soal sense of crisis.

"Bisa saja, membubarkan lembaga. Bisa saja reshuffle. Udah kepikiran ke mana-mana saya. Entah buat perppu yang lebih penting lagi. Kalau memang diperlukan. Karena memang suasana ini harus ada, suasana ini tidak, bapak ibu tidak merasakan itu sudah," tegas Jokowi di hadapan para menterinya saat memimpin sidang kabinet paripurna pada 18 Juni 2020.

Elite PDIP pun memprediksi kementerian yang bakal kena reshuffle kabinet, yakni sektor ekonomi dan kesehatan dalam sebuah pesan kuat soal kegagalan paham terkait sense of crisis di tengah wabah COVID-19. Kementerian di sektor ekonomi dipimpin oleh menteri dari profesional maupun asal parpol.

"Melihat gestur presiden dalam pidato ini, nampaknya akan ada reshuffle kabinet, terutama terhadap pembantu-pembantunya yang kurang tanggap sense of crisis, terutama tentu yang berkaitan dengan pembantu-pembantu presiden yang berkaitan dengan penanggulangan COVID-19, penanggulangan dampak sosial ekonomi dan pemulihan ekonomi," demikian prediksi Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira.

Sejumlah pakar bahkan menyebut sejumlah menteri yang bakal kena reshuffle. Sejumlah ormas pun mulai mendorong reshuffle kabinet ke menteri yang dianggap kurang perform. Pengurus Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Timur mengusulkan agar Menteri Agama (Menag) Jenderal TNI (Purn) Fahcrul Razi di-reshuffle.

(elz/fjp)