Melihat Sejarah Bhayangkara di HUT Polri 74

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 07:04 WIB
Korps Kepolisian Air dan Udara (Korpolairud) Baharkam Polri merayakan HUT Ke-68. Para Polwan Polairud pun unjuk kebolehan dalam acara tersebut.
Korps Bhayangkara, nama yang diambil dari pasukan elite Majapahit (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Hari ini, 1 Juli 2020 Kepolisian Republik Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-74. Zaman kerajaan Majapahit Bhayangkara adalah sebuah satuan pasukan khusus dan terlatih dengan baik. Tugas yang diberikan pendirinya, Mahapatih Gajah Mada tak main-main. Prajurit Bhayangkara merupakan pasukan pelindung raja dan kerajaan.

Nama Bhayangkara kemudian melekat pada institusi Polri yang berdiri pada 1 Juli 1946. Sebelumnya, korps bhayangkara ini berada di bawah lingkungan Kementerian Dalam Negeri. Namun setelah Presiden Sukarno meneken Penetapan Pemerintah 1946 No.11/S.D. , Polri menjadi jawatan tersendiri yang langsung berada di bawah pimpinan Perdana Menteri.

Berikut lintasan sejarah Bhayangkara dari masa kolonial sampai reformasi :

1. Polisi dalam zaman kolonial Belanda

Catatan paling awal soal kepolisian zaman kolonial menurut Marieke Bloembergen dalam buku Polisi Zaman Hindia Belanda : Dari Kepedulian dan Ketakutan termaktub dalam dua peraturan kepolisian yang diberlakukan sesudah penyerahan kekuasaan kembali Hindia Belanda dari Inggris kepada Belanda pada 1816. Satu untuk mengatur pemeliharaan keamanan warga Eropa yang diawasi Jaksa Agung dan satu lagi untuk masyarakat bumiputra di bawah kendali residen.

Kemudian ditemukan juga polisi desa dan opas polisi. Opas polisi dibentuk dari beragam orang mantan anggota marsose, pesuruh, penjaga, dan pemungut pajak. Selanjutnya pemerintah kolonial di luar Pulau Jawa dan Madura sejak 1863 membentuk korps kepolisian bersenjata untuk menjaga ketertiban tanpa kewenangan penyidikan. Ketika terjadi pemberontakan petani di Banten pada 1888, dibentuk pula dua korps kepolisian bersenjata yang ditempatkan di Caringin dan Lebak.

2. Terbentuknya polisi Hindia Belanda yang modern.

Cikal bakal kepolisian Hindia Belanda yang modern terjadi pada Maret 1897 ketika diadakan reorganisasi. Kepolisian dijadikan satu korps agar kontrol atas upaya pemeliharaan keamanan lebih efektif. Reorganisasi ini dilakukan tuntutan dari penduduk Eropa di Hindia Belanda yang cemas atas tidak optimalnya polisi mengontrol kondisi keamanan.

Polisi yang dilengkapi dengan persenjataan ini ditempatkan di bawah kendali Kementerian Dalam Negeri. Formasi opas polisi di Jawa dan Madura saat itu berkekuatan 5.962 orang. Sementara total penduduk di Jawa Madura sekitar 29 juta ditambah 62 ribu orang Eropa.

Pada 1902 formasi kepolisian bersenjata terdiri atas 29 grup. Sebanyak 13 grup berada di Jawa. Tiap grup terdiri atas seorang instruktur Eropa, seorang sersan bumiputra, dua kopral bumiputra yang diambil dari militer, dan 24 prajurit pribumi. Dalam kurun waktu sampai 1920 tercatat beberapa kali korps kepolisian Hindia Belanda mengalami reorganisasi.

Pada masa ini juga tepatnya Oktober 1914 didirikan sekolah kepolisian Hindia Belanda berlokasi di Batavia. Sekolah ini dipimpin Ajun Komisaris Besar Polisi I.H. Misset dari korps inspektur polisi Den Haag. Anggota kepolisian Hindia Belanda yang merupakan cikal bakal dari korps Bhayangkara saat ini mencapai jumlah terbesarnya pada 1930, yakni 54 ribu personel. Sebanyak 96 persen di antaranya justru berasal dari golongan pribumi.

3. Zaman pendudukan Jepang

Pada masa ini Jepang membagi wilayah kepolisian Indonesia menjadi Kepolisian Jawa dan Madura yang berpusat di Jakarta, Kepolisian Sumatera yang berpusat di Bukittinggi, Kepolisian wilayah Indonesia Timur berpusat di Makassar dan Kepolisian Kalimantan yang berpusat di Banjarmasin.

Tiap-tiap kantor polisi di daerah meskipun dikepalai oleh seorang pejabat kepolisian bangsa Indonesia, tapi selalu didampingi oleh pejabat Jepang yang disebut sidookaan. Sidookaan ini dalam praktiknya lebih berkuasa dari kepala polisi.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2