Al-Ta'lim al-Muta'allim (12)

Membedah Kurikulum

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/Nasaruddin Umar
Jakarta -

Ada orang bijak mengatakan kualitas manusia seperti apa yang diharapkan dapat diorder melalui kurikulum. Pernyataan ini mengingatkan kita betapa pentingnya kurikulum itu untuk diperhatikan. Kurikulum bisa dianalogikan dengan 'lauh al-mahfudh', semacam konsep atau blue print dari sebuah gagasan yang diharapkan. Jika kurikulum itu ideal dari berbagai sudut pandang idealnya juga akan melahirkan generasi baru yang lebih perfect. Sebaliknya jika sebuah kurikulum amburadul, apalagi tidak didukung dengan perangkat pendukung yang siap, maka bisa dibayangkan pula apa yang akan terjadi dengan generasi masa depan kita.

Penulis sesungguhnya tidak sefanatik dengan pendapat di atas. Banyak negara yang tidak memiliki keahlian merancang kurikulum tetapi para peserta didik dan seluruh pihak yang terlibat di dalam dunia pendidikan mereka didasari oleh kesadaran bahwa dunia
pendidikan harus dilakukan sebagai sesuatu yang luhur, dengan niat yang baik, dengan motifasi yang kuat, dan tentunya dengan harapan yang ideal. Keluhuran niat dan kesungguhan di dalam mengelola dunia pendidikan bisa juga melahirkan kejutan dengan
terwujudnya generasi bangsa yang menakjubkan. Mungkin kita bisa menunjuk contoh beberapa negara atau bangsa dalam lintasan sejarah berhasil menjadi bangsa yang kuat berkat kesuksesan dunia pendidikan mereka.

Alangkah idealnya, jika kedua semangat di atas disinergikan. Satu sisi kita mempersiapkan kurikulum yang lebih komprehensif, dengan memperhatikan pengembangan intelektual yang paralel dengan kekuatan moral dan rasa cinta tanah air. Pada sisi lain
segenap peserta didik, termasuk pemerintah dan lingkungan keluarga dan masyarakat, mengambil bagian secara sungguh-sungguh di dalam mewujudkan generasi baru ideal. Hal ini sesungguhnya sangat dimungkinkan karena semua pihak berkepentingan secara subyektif dan obyektif mewujudkan gagasan itu. Tidak satu pun anak menghendaki nasib buruk dan sudah pasti tak seorang pun orang tua yang rela menelantarkan masa depan anak-anaknya. Tentu saat bersamaan guru bercita-cita melahirkan anak didik yang produktif dan sudah pasti pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, mengobsesikan generasi muda bangsa yang handal dan kompetitif.

Persoalannya ialah bagaimana menyinergikan kepentingan ideal para pihak tersebut. Saat ini memang sedang berlangsung penyempurnaan konsep kurikulum nasional dan diharapkan dalam tahun ini juga bisa diimplementasikan secara bertahap sesuai dengan tahapan perencanaan dan tentu saja dengan anggaran yang tersedia. Jika konsep kurikulum pendidikan nasional kita bisa dituntaskan secepatnya kemudian diiringi dengan kemampuan guru dan kelengkapan sarana pendukung, maka itu artinya kita menyiapkan sesuatu yang amat mahal dan sangat tinggi nilainya untuk masa depan bangsa kita. Kini sudah saatnya kita sebagai warga bangsa untuk tidak saling menunjukkan kelemahan masing-masing secara destruktif, tetapi bagaimana agar program besar ini bisa terealisasi dengan baik dan lebih cepat. Kurikulum memang tidak akan pernah mungkin sempurna bagi sebuah bangsa besar seperti Indonesia, oleh karena itu pembinaan kurikulum harus dianggap sebagai sesuatu yang on-going process, yang selalu terus disempurnakan.

(nwy/nwy)