Wawalkot Minta Warga Bogor yang Ngekos di DKI Balik ke Jakarta Minggu Malam

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 12:05 WIB
Suasana Stasiun Bogor, 15 Juni 2020, pagi. (Sachril AB/detikcom)
Foto: Suasana Stasiun Bogor, 15 Juni 2020, pagi. (Sachril AB/detikcom)
Bogor -

Antrean panjang di Stasiun Bogor, terjadi hampir setiap Senin pagi. Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim meminta warga Bogor yang ngekos di Jakarta untuk mengatur jadwal keberangkatannya.

"Supaya antrean tidak mengular, masyarakat juga mengukur waktu. Misalnya gini, misalnya yang punya kepentingan untuk bekerja di Jakarta pada hari Senin pagi, kan biasanya mereka ngekos di Jakarta juga. Nah yang ngekos-ngekos itu bisa kembali dulu ke Jakarta hari Minggu, gitu. Minggu sore atau Minggu malam supaya tidak terjadi kepadatan di hari Senin pagi kan," kata Dedie, ketika dihubungi, Senin (29/6/2020).

Dedie mengungkapkan hari Senin dan Jumat adalah waktu paling sibuk bila dibandingkan hari lain. Dari pukul 04.00 WIB sampai 11.00 WIB, lanjutnya, ada sekitar 5.000 orang yang akan menggunakan KRL.

Dia mengatakan waktu operasional KRL dibuka lebih cepat, yakni dari pukul 04.00 WIB. Namun dari semenjak pukul 04.00 WIB tadi, kata Dedie, Stasiun Bogor sudah dipadati warga yang akan pergi bekerja.

"Apa harus kita minta jam 03.00 buka (operasional KRL)? Itu kan tergantung dari (PT) KCI atau PT KAI. Jadi artinya penumpang mengatur jam keberangkatan. Kalau mereka yang ngekos di Jakarta jangan spekulasi (berangkat) di Senin subuh, kan gitu kan. Diatur, mereka bisa berangkat Minggu sore atau Minggu malam di mana kepadatan masih rendah, gitu," jelas Dedie.

Dia mengatakan bus gratis yang disiapkan tidak akan mampu mengatasi kepadatan di KRL. Sebab, bus gratis hanya mampu menampung 50 persen penumpang. Pengaturan kapasitas maksimal 50 persen penumpang ini, sambungnya, dikarenakan aturan dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Kalau soal bus, berapa pun jumlah bus yang ditambah tidak akan pernah cukup karena memang nggak bisa dibandingkan jumlah kereta dengan tujuan akhir ya. Dengan bus yang lewat terminal dulu, itu kan beda. Orang kan memang lebih seneng naik kereta. Cuma kondisi sekarang kan harus protokol COVID kan, itu masalahnya," pungkasnya.

Antrean penumpang kereta di Stasiun Bogo, 29 Juni 2020. (Sachrl AB/detikcom)Antrean penumpang kereta di Stasiun Bogo, 29 Juni 2020. (Sachrl AB/detikcom) Foto: Antrean penumpang kereta di Stasiun Bogo, 29 Juni 2020. (Sachrl AB/detikcom)

Sebelumnya, di Stasiun Bogor, Jawa Barat, para penumpang mengantre untuk dapat mengakses kereta rel listrik (KRL) menuju Jakarta. Para penumpang terlihat berbaris rapi mencoba mematuhi prinsip jaga jarak. Antrean mengular panjang sampai parkiran.

Pantauan detikcom, Senin (29/6) sekitar pukul 06.35 WIB, Stasiun Bogor sudah dipadati masyarakat yang akan menggunakan KRL. Antrean sampai keluar koridor atau ke arah parkiran.

Loket tiket dipindahkan di parkiran. Petugas langsung mengarahkan masyarakat yang baru datang ke Stasiun Bogor untuk menuju barisan paling belakang antrean.

Antrean mengakses bus gratis di Stasiun Bogor, 29 Juni 2020. (Sachril AB/detkcom)Antrean mengakses bus gratis di Stasiun Bogor, 29 Juni 2020. (Sachril AB/detkcom) Foto: Antrean mengakses bus gratis di Stasiun Bogor, 29 Juni 2020. (Sachril AB/detkcom)

Sebagian masyarakat yang baru datang ada yang membeli tiket terlebih dahulu. Semakin lama, semakin banyak orang yang datang ke stasiun.

Petugas dengan memakai pengeras suara selalu mengingatkan agar menjaga jarak dan berdiri di marka yang disediakan. Terlihat, tak semua pengguna KRL mematuhi imbauan yang diberikan petugas.

(isa/isa)