Visa 156 TKA China Belum Diperiksa, Kepala Imigrasi Kendari: Masih Dikarantina

Sitti Harlina - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2020 18:01 WIB
Kepala Imigrasi Kendari, Hajar Aswad menyatakan siap mundur jika kedatangan TKA China melanggar aturan, Rabu (24/6/2020).
Kepala Imigrasi Kendari Hajar Aswad. (Sitti Harlina/detikcom)
Kendari -

Visa 156 tenaga kerja asing (TKA) asal China (sebelumnya ditulis 152) gelombang pertama yang tiba di Sulawesi Tenggara (Sultra) belum diperiksa. Kepala Kantor Imigrasi Kendari Hajar Aswad menyebut 156 TKA itu saat ini sedang menjalani karantina di PT OSS sebagai bagian dari protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran virus Corona (COVID-19).

"Kedatangan 156 TKA ini sesuai dengan Permenkum HAM No 11 Tahun 2020, saat ini sedang menjalani masa karantina karena semua orang asing yang datang di masa pandemi harus dikarantina," kata Hajar di kantor Imigrasi Kendari, Sabtu (27/6/2020).

Karena 156 TKA itu masih menjalani masa karantina, tim dari Kantor Imigrasi Kendari belum turun untuk memeriksa dokumen mereka, meski visa para TKA itu sudah diperiksa oleh pihak Imigrasi Manado saat mereka transit di Bandara Samratulangi begitu tiba dari China.

"Secara fisik belum karena saya belum mengutus anggota saya ke sana karena ini masih masa karantina," ujar Hajar.

Rencananya, pemeriksaan dokumen akan dilakukan pada hari ke-15 atau ke-16 setelah karantina. Seluruh dokumen para TKA tersebut, kata Hajar, haris periksa secara detail.

"Insyaallah di hari ke-15 atau ke-16 menugaskan petugas saya untuk cek langsung, baik itu visa, paspor, dan sesuai dengan wajahnya," tegasnya.

Hajar pun menjelaskan 156 TKA, yang merupakan kelompok pertama dari total 500 TKA yang akan datang ke Kendari ini, belum boleh bekerja dulu. Pasalnya, untuk bekerja bekerja sesuai dengan peruntukan visa, TKA harus mendapatkan izin tinggal terbatas (Itas).

"Semua tenaga kerja asing yang menggunakan visa C312 memiliki kewajiban untuk melapor ke Imigrasi sehingga diubah dari Vitas menjadi Itas. Setelah diterbitkan Itas baru mereka bisa beraktivitas sesuai dengan peruntukan visanya," papar Hajar.

Meskipun belum memeriksa secara fisik, Hajar mengungkapkan 156 TKA yang datang menggunakan visa C312 atau visa kerja. Ini diketahui berdasarkan permohonan visa dari pihak sponsor para TKA itu ke pihak Imigrasi.

"Sebenarnya, sebelum mereka tiba di Tanah Air, saya sudah memiliki data berupa permohonan visanya dari sponsor dari kantor pusat Direktorat Jenderal Imigrasi itu detail nama, no paspor, jenis visa yang diajukan. Semua menggunakan visa 312, mengenai profesi/keahlian bukan di Imigrasi," terang Hajar.

Seperti diketahui, kedatangan TKA China di Sultra mendapat penolakan dari mahasiswa. Penolakan terhadap kedatangan TKA China sudah berlangsung sejak pekan lalu. Gelombang pertama TKA China datang lewat Bandara Haluoleo, Kendari.

Dalam hal ini perusahaan yang menyerap ratusan TKA China itu adalah PT VDNI dan PT OSS. Pihak perusahaan telah menerangkan menjelaskan para TKA itu dipekerjakan sebagai tenaga ahli dalam penyelesaian pembangunan pengolahan dan pemurnian bijih tambang atau smelter di Kabupaten Konawe.

Sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) menggeruduk kantor Bupati. Mereka menuntut Bupati Konawe Kerry Saiful Konggoasa menolak kedatangan 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China di PT VDNI yang terletak di Kabupaten Konawe pada Jumat (19/6).

(elz/ear)