Soal Terorisme
BIN Diminta Tidak Ember
Selasa, 27 Des 2005 16:37 WIB
Jakarta - Sikap Badan Intelijen Negara (BIN) yang mempublikasikan ancaman penculikan terhadap pejabat, kembali mendapat kritik. BIN diminta tidak sembarangan mengumbar temuannya ke publik alias tidak ember. Demikian imbauan Sekretaris FPPP Lukman Hakiem menanggapi pernyataan BIN yang mengumumkan para pejabat negara menjadi target penculikan terorisme, saat ditemui detikcom di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/12/2005).BIN lebih baik langsung menindaklanjuti temuan itu dengan berkoordinasi dengan aparat terkait. "BIN itu tidak usah ngomong-ngomong kalau dapat info, langsung saja di-follow up-i. Kalau orangnya jelas, tangkap! Kalau belum bisa, diperketat pengamanan," kata Lukman. Lukman kemudian mengingatkan BIN agar tak mengesankan keamanan di Indonesia buruk. Seharusnya BIN lebih profesional dengan cara mendeteksi informasi sebanyak mungkin dan menindaklanjutinya. "Kalau ngomong di muka publik, kayak negara ini gawat banget saja. Tugas BIN bukan menggawat-gawatkan suasana. Kalau diumumkan terus itu jadi nakut-nakutin, ngapain sih ngomong?" protes politisi PPP itu. PresidenLukman juga menyatakan tak setuju dengan pengetatan pengamanan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Pengamanan harus prima dan steril. Tapi jangan di menara gading. Jangan bikin dia jauh dari rakyat," kata Lukman. Pengetatan pengamanan, menurut Lukman, merupakan ketakutan yang berlebihan. Daripada memperketat pengamanan, seharusnya presiden lebih berharap pengamanan dari rakyat. "Buat rakyat yang mengamankan beliau, seperti Bung Karno dulu. Kalau ke daerah dia cuma di mobil jeep terbuka, padahal saat itu banyak pemberontakan," ingat Lukman.
(iy/)











































