Kisah Pertempuran Ambarawa, Saat Indonesia Mempermalukan Pasukan Inggris

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 14:33 WIB
Benteng Pendem Ambarawa
Benteng Pendem Ambarawa, salah satu saksi bisu kedahsyatan pertempuran Ambarawa. Foto: (Graece Tanus/d'traveler)
Jakarta -

Pertempuran Ambarawa, Jawa Tengah terjadi antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Indonesia melawan serdadu Inggris. Pertempuran yang kemudian dikenal sebagai Palagan Ambarawa ini berlangsung sekitar tiga minggu, dimulai 20 November 1945.

Pendaratan pasukan Inggris di Jawa Tengah untuk menyelamatkan para tawanan dan interniran yang ditahan pasukan Jepang menjadi titik awal terjadinya pertempuran Ambarawa . Pasukan Inggris ini bergerak ke Magelang dan Ambarawa. Ambarawa memang jadi kota militer bagi Belanda di masa kolonial. Zaman pendudukan Jepang, di kota kecil yang terletak 40 km dari Semarang ini terdapat juga kamp interniran.

Proses pembebasan tawanan ini rupanya tak mulus. Benedict Anderson dalam bukunya Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 menyebut timbul perselisihan karena sikap orang Belanda yang diperbantukan pada satuan Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI). RAPWI sendiri bertugas menangani tawanan perang dan para interniran.

Akhirnya bentrokan antara tentara Sekutu dengan TKR dan laskar pemuda tak bisa dihindari. Sementara pada 20 November 1945 mulai pecah pertempuran Ambarawa. Dalam buku The British Occupation of Indonesia: 1945-1946: Britain, The Netherlands and the Indonesian Revolution yang disusun Richard McMillan disebutkan pejuang Indonesia memblokade sejumlah jalan dan menembaki pasukan Inggris.

"Pasukan Inggris membalas dengan senapan mesin dan mortir," tulis McMillan. Pesawat Angkatan Udara Kerajaan Inggris dipanggil untuk membantu melakukan penyerangan dari udara. Pasukan Inggris di Magelang juga ditarik untuk membantu kawan-kawannya dalam pertempuran Ambarawa.

Panglima Besar Sudirman, yang baru saja terpilih sebagai pimpinan TKR langsung mengambil komando pasukan dan mengkoordinir pertempuran Ambarawa. TKR dari sejumlah daerah di Jawa Tengah diperintahkan turut mengepung wilayah yang diapit Danau Rawa Pening dan wilayah perbukitan itu.

Pertempuran Ambarawa ini membawa korban tak sedikit di pihak Indonesia. Salah satu perwira senior TKR, Letnan Kolonel Isdiman, Panglima Resimen Purwokerto gugur terkena berondongan senapan mesin pesawat tempur. Tempat gugurnya Isdiman kini diabadikan menjadi Monumen Palagan Ambarawa.

Memasuki pertengahan Desember posisi pasukan Inggris semakin terjepit dalam pertempuran Ambarawa ini. Apalagi banyak interniran yang harus juga dilindungi. Pada 8 Desember 1945, kelompok interniran terakhir berhasil diungsikan ke Semarang.

Berhari-hari berada dalam kepungan membuat pasukan Inggris memutuskan mundur dari Ambarawa. Garnisun terakhir tercatat meninggalkan Ambarawa pada 14 Desember 1945. Sehari kemudian, pertempuran Ambarawa yang kemudian dikenal sebagai Palagan Ambarawa berakhir. Kini tiap tahunnya diperingati diperingati sebagai Hari Juang Kartika.

(pal/erd)