Catatan Ikatan Dokter Anak Jika Sekolah Dibuka Lagi di Tengah Pandemi

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 17:23 WIB
Elementary schoolgirl enters the school cafeteria. She pauses while looking for a friend.
Ilustrasi anak masuk sekolah (Foto: dok, iStock)
Jakarta -

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sejumlah catatan jika sekolah akan dibuka kembali di masa pandemi virus Corona baru (COVID-19). IDAI menekankan agar sekolah-sekolah siap dengan PCR test untuk para siswa.

"PCR kita jauh di bawah Korea dan lain-lain, bahkan Pakistan. Ini tentu jadi kendala ketika sekolah buka (tapi) kita tidak siap. Saat ini banyak yang buka hanya mengandalkan rapid test. Rapid test ini tidak bisa untuk diagnosis. Memang ada katanya penerbangan boleh pakai rapid test, itu orang dewasa. Saya tidak mau komentar, tapi sangat berbahaya itu. Jadi kalau mau terbang, dia pakai rapid test itu sangat berbahaya. Kalau anak, kita tidak mau memberikan dia hanya dengan rapid test, harus PCR," kata Ketua PP IDAI dr Aman Pulungan dalam rapat di Komisi X DPR, Kamis (25/6/2020).

Menurut dr Aman, membuka kembali sekolah bisa memungkinkan peningkatan kasus positif Corona. Bahkan angka kematian disebutnya juga akan meningkat.

"Kalau kita membuka sekolah, berarti kita harus perkirakan kasus akan meningkat, berapa perawatan ICU, dan jumlah kematian kemungkinan juga akan meningkat," ujarnya.

dr Aman mengatakan ada sekitar 60 juta anak yang akan masuk sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA. Menurut dr Aman, risiko anak tertular dan menularkan COVID-19 akan tinggi di sekolah.

"Anak yang akan masuk sekolah ini perkiraannya ada sekitar 60 juta, dari SD, PAUD, SMA, SMA, dan lain-lain dari seluruh Indonesia. Jadi bisa kita bayangkan ini berapa banyak semua anak kalau dia OTG yang lain-lain ini berapa banyak potensi mereka tertular dan mereka bisa menularkan. Kalau ada gejala, semua ini harus di-tracing, dan harus di-swab semuanya, diisolasi semua," tegasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2