Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Panduan Tersendiri Saat Belajar Daring

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 14:51 WIB
Siswa Tuna Netra tengah menyelesaikan soal Ujian Nasional Bahasa Indonesia, di SLB-A Pembina Tingkat Nasional, di Jalan Pertanian Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (09/05/2016). Rengga Sancaya/detikcom.
Ilustrasi pembelajaran anak berkebutuhan khusus (Foto: Rengga Sancaya)

Selain itu, Munawir mengusulkan agar ada kemungkinan anak berkebutuhan khusus diizinkan kembali bertemu dengan gurunya di sekolah secara bertahap. Hal itu menurutnya penting agar anak berkebutuhan khusus tidak kehilangan minat untuk kembali ke sekolah.

"Ini satu usulan, secara bertahap harus dibuka kemungkinan anak berkebutuhan khusus itu dengan didampingi orang tua atau pendamping, diizinkan untuk dipertemukan kembali dengan guru dan lingkungan sekolah. Ini untuk menghindari agar jangan sampai anak nanti terlalu berkepanjangan tidak mengenal sekolah, akhirnya akan terjadi mereka tidak mau bersekolah. Mungkin satu atau dua minggu sekali scr bergiliran. Tentu dgn protokol kesehatan yg sangat ketat," tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Munawir, guru-guru juga perlu diizinkan melakukan pembelajaran langsung ke rumah-rumah siswa berkebutuhan khusus. Ia menyebut selama ini para guru tidak berani mengambil langkah karena belum ada ketentuan yang mengaturnya.

"Demikian juga guru juga dapat melakukan pembelajaran langsung door to door atau kunjungan rumah bagi anak-anak tertentu yang sangat membutuhkan perhatian khusus. Ini yang belum berani dilakukan guru karena panduan untuk ini belum dibuatkan," ucapnya.

Karena itulah, Munawir meminta pemerintah menyusun pembelajaran yang sesuai dengan anak berkebutuhan khusus. Pemerintah juga diminta memperhatikan terapi untuk anak berkebutuhan khusus dengan protokol kesehatan.

"Pemerintah memberikan sumber belajar yang sesuai dan mudah diakses dengan tuntutan kurikulum yang ada berbasis jenis ketunaan. Misalnya untuk tunanetra, materi pembelajaran dibuat dalam bentuk audio, untuk tunarungu disediakan materi dengan video yang dilengkapi dengan narasi tertulis. Sumber belajar untuk mereka ini adalah sangat terbatas sekali," ujar Munawir.

"Berikutnya adalah mendapatkan layanan terapi bagi anak-anak tertentu, perlu juga diatur dengan protokol kesehatan yang jelas," pungkasnya.

Halaman

(azr/imk)