Anak Berkebutuhan Khusus Butuh Panduan Tersendiri Saat Belajar Daring

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 14:51 WIB
Siswa Tuna Netra tengah menyelesaikan soal Ujian Nasional Bahasa Indonesia, di SLB-A Pembina Tingkat Nasional, di Jalan Pertanian Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (09/05/2016). Rengga Sancaya/detikcom.
Ilustrasi pembelajaran anak berkebutuhan khusus (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Anak berkebutuhan khusus dinilai juga sangat terdampak pandemi virus Corona. Ketua Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia Munawir Yusuf mengatakan anak berkebutuhan khusus memiliki tantangan tersendiri saat mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Anak berkebutuhan khusus adalah termasuk kelompok yang paling rentan terjadi degradasi dalam pendidikan akibat COVID-19 dengan penerapan pembelajaran jarak jauh yang berkepanjangan. Pembelajaran yang telah dibangun bertahun-tahun di sekolah bisa hilang karena tidak terjadi kesinambungan dengan pembelajaran yang diterapkan di lingkungan rumah," kata Munawir dalam rapat di Komisi X DPR, Kamis (25/6/2020).

Munawir mengatakan anak berkebutuhan khusus tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga interaksi langsung dengan orang yang dipercaya, sentuhan, dan bimbingan intensif dengan guru dan pengasuh di sekolah. Belajar daring tanpa interaksi langsung dengan guru menurutnya akan berdampak serius terhadap anak berkebutuhan khusus.

"Terputusnya komunikasi dan interaksi langsung antara guru dengan anak berkebutuhan khusus secara berkepanjangan ini akan berdampak sangat serius, seperti misalnya tidak mau bersekolah lagi. Atau jika ada yang mau bersekolah, semua harus dimulai dari awal lagi, karena anak berkebutuhan khusus memiliki karakter yang berbeda. Ketika terhenti komunikasi dan sequency pembelajaran, bisa saja mereka akan kehilangan sesuatu dan akhirnya harus mulai dari awal," jelasnya.

Menurut Munawir, jika PJJ masih harus diterapkan, pemerintah perlu memikirkan solusi implementasinya untuk anak berkebutuhan khusus. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan asosiasi profesinya, Munawir menyebut guru SLB dan guru pendamping khusus (GPK) di sekolah kesulitan dalam memilih media belajar yang sesuai dan anak berkebutuhan khusus menjadi kebingungan.

"Jika semester depan ini masih harus menerapkan PJJ untuk semua sekolah, perlu dibuatkan kebijakan khusus bagi anak berkebutuhan khusus. Pertama, perlu dibuatkan panduan PJJ menuju new normal, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus sesuai dengan jenis ketunaan, ini yang belum ada. Anak-anak dengan keterbatasan intelektual, autis, dan masih membutuhkan tambahan layanan terapi adalah sebagian yang paling terdampak akibat COVID-19," ujar Munawir.

"Jadi biasanya harus ada terapi rutin, kemudian ditiadakan, anak yang mengalami hambatan intelektual, autis yang agak sulit, agak berat, mereka tidak memungkinkan menggunakan pembelajaran daring dan orang tua juga mengalami kesulitan," imbuhnya.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2