Aksi Saling Dorong Warnai Demo Krisis Air Bersih di Maros Sulsel

M Bakrie - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 14:38 WIB
Unjuk rasa ratusan warga dan mahasiswa di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), menuntut pemerintah kabupaten menuntaskan persoalan krisis air bersih. Unjuk rasa itu diwarnai aksi saling dorong dengan petugas pengamanan.
Foto: M Bakrie/detikcom
Maros -

Unjuk rasa ratusan warga dan mahasiswa di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), menuntut pemerintah kabupaten menuntaskan persoalan krisis air bersih. Unjuk rasa itu diwarnai aksi saling dorong dengan petugas pengamanan.

Massa yang menolak perwakilan Pemkab yang datang hendak menerima mereka, memaksa agar Bupati Maros Hatta Rahman datang menemui mereka. Karena tidak dipenuhi, massa pun berkali-kali mendobrak pagar besi dan berusaha merobohkannya.

"Kami menolak bertemu dengan perwakilan Bupati, karena kami yakin tidak akan ada solusi yang didapatkan. Persoalan ini sudah turun temurun, tapi sampai sekarang tidak pernah ada kejelasan dan pemerintah tidak serius," kata Koordinator Lapangan Arung Tri Priyo Kamis (25/06/2020).

Unjuk rasa ratusan warga dan mahasiswa di Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), menuntut pemerintah kabupaten menuntaskan persoalan krisis air bersih. Unjuk rasa itu diwarnai aksi saling dorong dengan petugas pengamanan.Unjuk rasa diwarnai aksi saling dorong dengan petugas pengamanan. Foto: M Bakrie/detikcom



Dalam aksinya itu, mahasiswa menuding Pemerintah lebih mementingkan kebutuhan air untuk industri ketimbang kebutuhan warganya. Padahal, Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 dengan tegas menyebutkan jika air harus digunakan untuk kepentingan rakyat.

"Undang-Undang dasar kita sudah menjamin jika air ini harus digunakan sepenuhnya untuk rakyat. Tapi di Maros ini, Pemerintah lebih mementingkan kebutuhan industri yang ada. Ada dua perusahaan besar yang menggunakan sumber air kami di Batubassi," lanjutnya.

Selama ini, Pemkab Maros memang telah berkali-kali mengerjakan proyek pipanisasi ke area pesisir seperti di Kecamatan Bontoa, hanya saja, menurut mereka proyek itu tidak ada gunanya karena tetap saja air bersih tidak bisa sampai ke sana. Alasannya, debit air di hulu yang memang kurang.

"Mereka hanya memasang pipa dan membuat sumur penampung hujan. Itu bukan solusi buat kami. Buat apa pipa kalau airnya tidak mengalir. Sumur besar yang dibuat juga hanya bertahan beberapa bulan. Selebihnya kita harus berebut dengan ternak untuk air bersih," ujarnya.

Meski tidak berhasil berdialog dengan Bupati Maros, Massa yang berasal dari berbagai organisasi di Maros ini, tetap melanjutkan aksi mereka dengan berorasi dan membakar ban. Selain di kantor Bupati, mereka juga menggelar aksi di kantor DPRD Maros dan di jalan poros Maros Makassar.

Tonton juga video 'Krisis Air Bersih di Jambi, 5.000 Liter Disalurkan Gratis':

(tor/tor)