Setahun Tsunami di NAD
Derita yang Tak Kunjung Usai
Selasa, 27 Des 2005 08:16 WIB
Jakarta - Cobaan seakan tidak ingin lepas dari warga korban tsunami di Banda Aceh, NAD. Setelah setahun lalu dihempas gelombang tsunami, kini tenda mereka pun kerap terendam air jika hujan turun.Pemandangan ini terlihat di pengungsian yang terletak di Lampulo, Banda Aceh. Jarak pemukiman ini tidak jauh dari pusat kota, hanya berjarak 2 kilometer.Karena tsunami, hampir sebagian besar warga yang tinggal di kawasan ini kehilangan tempat tinggal. Kawasan yang mereka tempati memang tidak jauh dari muara. Dan akibatnya, puluhan warga terpaksa harus tinggal di tenda-tenda. Sedangkan sebagian warga lainnya memilih tinggal di barak-barak sementara.Warga yang tinggal di barak, kondisinya sedikit lebih baik dibanding yang tinggal di tenda. Warga yang tinggal di tenda kerap merasakan dinginnya air yang menggenangi tenda. Alas dari tenda ini memang tidak dibuat lebih tinggi dari tanah. Mereka lebih memilih merasakan lantai rumahnya yang rusak akibat tsunami. Belum lagi, jika hujan turun, jalan masuk ke pemukiman pun menjadi sangat becek. Cobaan lain yang dirasakan pengungsi yakni lambannya bantuan pemerintah. Tidak sedikit pengungsi yang mengeluhkan kelambanan ini. Usman Abdullah (58), warga Leupung, Lambaro, Aceh Besar, mengaku kampungnya minim perhatian dari pemerintah. Jika sakit, ia mengungkapkan tetap harus membayar biaya pemeriksaan dokter di Banda Aceh.Usman sehari-hari adalah penjual ikan segar keliling. Setiap hari, ia berdagang dari kampung ke kampung. Sebelum tsunami, ia memiliki rumah 2 lantai dan beberapa kendaraan. Namun semuanya kini hilang dihantam gelombang tsunami. Saat ini, ia bersama istri barunya Aminah, satu anak dan menantu menempati rumah tenda yang terletak di belakang rumah. Ketika tsunami datang, Usman kehilangan istri, 4 anak dan orang tuanya.Untuk membangun kembali rumahnya, Usman mengaku setiap hari keliling kampung mencari kepingan papan yang tercecer. Langkah ini diambil karena uang yang dikumpulkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Pemukiman di sekitar rumah Usman memang hampir seluruhnya terbuat dari tenda. Berbeda dengan warga yang tinggal di Bakoy, Lambaro, Aceh Besar. Hampir seluruh rumah warga sudah semipermanen. Jarak antar 2 kampung ini sekitar 20 kilometer.Usman berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi warga yang tinggal di kampungnya. Terlebih jika pemerintah bisa mengadakan program kredit untuk menghidupkan lagi usaha yang pernah dilakoni.Harapan Usman memang hanya segelintir dari sekian ribu pengungsi yang masih berada di NAD. Tetapi, harapan itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Apalagi, dana kompensasi kenaikan harga masih belum direalisasikan di bumi serambi mekah ini. Semoga di tahun 2006, cobaan dan derita yang dirasakan Usman serta ribuan warga NAD lainnya bisa segera hilang.
(ton/)











































