Kolom Hikmah

Membaca Sunnah Nabi, Dexamethasone Unggul Obati Covid-19

Abdurachman - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 08:01 WIB
Abdurachman, guru besar UNair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

"Semua penyakit ada obatnya. Apabila sesuai antara obat dan penyakitnya, maka (penyakit) akan sembuh atas izin Allah." (HR Muslim)

Ilmuwan medis dunia terguncang. Bagai petir menyambar di siang bolong, sejumlah ilmuwan medis Indonesia mendengar obat yang kontradiktif itu dipublikasikan sebagai obat Covid-19. Tengok saja respons berupa opini dari para medicus di media massa mainstream.

Bagaimana tidak, karena obat itu adalah anti radang sekaligus menekan respons imun tubuh. Bukankah jika diberikan kepada penderita infeksi virus, bukan malah mengobati. Bukankah penanganan infeksi virus sangat bergantung pada kehebatan imunitas tubuh, sedangkan dexamethasone justru menekan imun?

Tidakkah ini malah menjadi kesempatan bagi virus untuk menyerang tubuh lebih mudah, terlebih SARS-CoV-2 yang belum satu pun ilmuwan medis dunia mengenalnya dengan baik? Covid-19 tak jarang mengajak korbannya meninggal setelah beberapa saat terkesan sembuh total!

Dexamethasone lebih unggul mengobati Covid-19 dari yang lain, benarkah?

Inilah sejumlah logika yang otomatis membuat mereka sontak bertanya-tanya. Hendak menolak sepenuhnya, yang memberitakan adalah ilmuwan Oxford. Universitas Oxford pasti tidak gegabah mengumumkan penemuan penting bila tidak berdasar fakta sains. Oxford telah lama terkenal dengan kualitas ilmiahnya yang jangankan ilmuwan Indonesia, ilmuwan Harvard pun belum tentu mau menyalahkan mereka dengan mudah. Lalu bagaimana ini bisa?

Tunggu dulu, tunggu dulu, sebentar kembali dulu menoleh kepada obat yang sangat "dimusuhi" para dokter Indonesia ini. Ia dimusuhi karena setidaknya di Indonesia, obat ini telah dikonsumsi oleh sekian banyak orang dalam rangka menimbulkan nyaman terutama pada penderita nyeri-nyeri, terbanyak nyeri sendi.

Juga kepada orang yang sulit menambah berat badan, kurus tidak gemuk-gemuk. Bahkan, seorang guru besar perempuan dari kedokteran gigi pernah harus dipaksa menghentikan konsumsi obat ini. Mengapa? Karena melalui jalan "apa pun" dirinya tidak mampu membuat tubuhnya agak berisi. Setelah mengonsumsi obat yang mengandung steroid semisal dexamethasone ini, ambyar, tidak sampai beberapa minggu tubuh sudah berisi, badan segar, doyan makan. Gampang ternyata!

Memang salah satu dampak samping dexamethasone adalah efek menahan air dari pengaruh retensi (menahan pengeluaran ion) natriumnya. Air tubuh yang tertahan menjadikan orang yang mengonsumsi terkesan gemuk. Dalam waktu cukup, retensi natrium ini menimbulkan peningkatan tekanan darah. Tekanan darah meningkat juga diakibatkan oleh efek retensi air, natrium menarik air.

Beban jantung meningkat karena volume darah relatif bertambah. Efek peningkatan tekanan darah, peningkatan volume darah akibat peningkatan volume air, bekerjasama membebani jantung. Akibat selanjutnya dapat diduga, pasien akan mudah menderita gagal jantung. Ditambah dengan efek retensi natrium juga memaksa ginjal bekerja ekstra.

Penekanan fungsi ginjal juga diiringi oleh menurunnya fungsi ginjal akibat meningkatnya tekanan darah. Pada gilirannya ginjal menyerah dan gagal. Tidak sengaja ginjal dipaksa harus menerima hemodialisis, cuci darah.

Itulah sebagian kisah menyeramkan di balik informasi ajaib ilmuwan Oxford melalui terapi dexamethasone.

Hukum Aksi-Reaksi Newton

Setiap aksi pasti menimbulkan reaksi, setiap stimulus (intervensi, dexamethasone) pasti menimbulkan respons. Sesuai hukum pasangan (Aburachman, 2014) respons yang timbul hanya sepasang, mengobati atau meracuni.

Untuk menjadi obat atau menjadi racun, dunia medis mengenal dosis, cara pemberian, timing dan lama pemberian. Respons menyeramkan sebagaimana peristiwa di atas hanya kalau diberikan oleh orang yang bukan ahlinya. Pasti belum sesuai; dosis, metode, timing, dan lama terapi.

Di tangan para ahli yang memahami dengan baik perjalanan dan mekanisme obat, mulai dikonsumsi sampai dimetabolisme, diproses oleh tubuh sampai dikeluarkan, bisa menjadi obat yang mujarab.

Itulah mengapa obat yang terkenal murah dan sangat mudah didapat ini menjadi obat yang didewakan. Setidaknya karena efeknya yang cepat dan tuntas. Saat ini dexamethasone menjadi unggul obati Covid-19 di tangan para ahli yang memang unggul.

Dexamethasone pada Covid-19

Saking gembiranya atas kesuksesan tim "gugus tugas Covid-19 Inggris" dalam menangani kasus, perdana mentri Boris Johnson sampai-sampai memamerkan kekagumannya atas temuan ini. "Saya bangga kepada para ilmuwan Inggris. Mereka didukung oleh dana pemerintah, telah melakukan uji coba klinis pertama dan menampakkan hasil cemerlang secara internasional. Mereka menemukan obat coronavirus yang terbukti mengurangi risiko kematian," katanya.

Dexamethason ditemukan dapat memangkas tingkat kematian pasien Covid-19 sampai 30 persen pada mereka yang menggunakan ventilator (alat bantu nafas). Obat ini menurunkan tingkat kematian sebesar 20 persen bagi mereka yang sudah harus dibantu oksigen. Temuan baru yang resmi diumumkan pada hari Selasa (16 Juni 2020). Semua keunggulan dexamethasone ditemukan setelah melalui uji coba klinis pasien Covid-19.

Martin Landray, seorang profesor epidemiologi kedokteran Oxford menyampaikan, "Temuan ini secara statistik menuai hasil yang menarik". Hasil riset ini sangat membantu pasien yang jatuh pada kondisi sangat sakit, pada saat pasien benar-benar membutuhkan pertolongan. Ditambahkannya bahwa obat ini bukanlah obat yang mahal, tidak seperti kebanyakan obat-obat baru yang dipasarkan.

Chris Whitty, kepala petugas medis Inggris mengatakan bahwa sejauh ini studi dexamethasone di Inggris adalah hasil uji coba yang paling penting untuk Covid-19.

"Dexamethasone mampu menurunkan mortalitas secara signifikan pada mereka yang membutuhkan oksigen atau ventilator. Ia adalah obat yang tersedia secara luas, aman dan terkenal. Itu akan menyelamatkan nyawa pasien Covid-19 di seluruh dunia, " tambahnya.

Patrick Vallance, kepala penasehat ilmiah pemerintah Inggris, menyampaikan hal ini sebagai perkembangan awal dalam perjuangan mereka melawan Covid-19. "Hal yang sangat menarik karena ini adalah obat murah yang tersedia secara luas", tambahnya.

Namun begitu, sekali pun dexamethasone bisa melakukan aktivitasnya sebagai 'juru selamat' pasien Covid-19 yang emergency (gawat), tetap saja harus digunakan oleh pakar yang memang benar-benar memahami seluruh mekanisme kerjanya!

Abdurachman

Guru Besar FK Universitas Airlangga

Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA)

Executive Board Member of APICA

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pembaca. --Terima kasih (Redaksi)--

(erd/erd)