Menkum HAM Ungkap Kondisi Habib Bahar di Nusakambangan

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 18:18 WIB
Habib Bahar bin Smith bebas usai menjalani setengah masa pidana atas kasus penganiayaan. Bahar keluar Lapas Pondok Rajeg dengan memakai baret merah bintang 5.
Habib Bahar bin Smith (Foto: pool)
Jakarta -

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menjelaskan soal pemindahan Habib Bahar bin Smith ke Lapas Nusakambangan. Yasonna mengatakan Habib Bahar kooperatif dan diperlakukan dengan baik di Nusakambangan.

Yasonna awalnya menjelaskan alasan Habib Bahar diamankan kembali setelah memperoleh asimilasi. Menurutnya, hal itu tidak hanya persoalan COVID-19, tetapi juga karena kerumunan yang ditimbulkan pendukung Habib Bahar menjadi viral.

"Tetapi itu menimbulkan tidak saja soal persoalan COVID dan lain-lain, tetapi membuat viral. Dan ini sesuai Permenkum HAM Nomor 10, perbuatan tersebut telah melanggar syarat khusus, menimbulkan keresahan masyarakat, pelanggaran Peraturan Gubernur tentang pembatasan sosial berskala besar. Jadi dengan itu, dan beliau sangat kooperatif ketika kita sampaikan, beliau sampai mengatakan kami adalah, 'Saya kan warga binaan yang baik', dan memang selama di sana beliau bertindak sebagai warga binaan yang baik," ujar Yasonna dalam rapat dengan Komisi III, Senin (22/6/2020).

Terkait pemindahan Habib Bahar ke Nusakambangan, Yasonna mengatakan hal itu demi memproteksi Lapas Gunung Sindur yang berisi tahanan teroris hingga narkoba, karena saat itu pendukung Habib Bahar berdemo di depan lapas tersebut. Yasonna memastikan Habib Bahar diperlakukan dengan baik di Nusakambangan.

"Nah kemudian pada hari berikutnya terjadi demonstrasi, terjadi sampai ada massa yang merusak di fasilitas. Karena Gunung Sindur termasuk lapas di mana ada teroris, lapas teroris, ada bandar narkoba, termasuk yang harus kita proteksi untuk mencegah hal-hal yg tidak kita inginkan. Maka Habib Bahar kami pindahkan ke Nusakambangan. Dan di sana saya sudah perintahkan harus dilakukan protap yang baik, layani dengan baik, tidak boleh ada treatment-treatment tidak benar," jelasnya.

Yasonna mengatakan Habib Bahar diperlakukan dengan baik dan bersikap kooperatif saat berada di Nusakambangan. Menurut Yasonna, Habib Bahar juga mengapresiasi kebijakan Kemenkum HAM yang memperbolehkan dirinya dijenguk pengacara maupun keluarga via video call karena ada ketentuan pencegahan COVID-19.

"Maka beliau mengapresiasi apa yang kita lakukan, dan termasuk ketika pengacaranya juga datang beliau sampaikan dalam rekaman suara betul-betul di-treat dengan baik dan kami mencobalah untuk membuat kondisi itu tidak seperti seperti kalau ke Nusakambangan dianggap seram, tetapi menempati sel khusus, artinya lebih bahkan dibandingkan ditempatkan di sel yang lebih banyak orang itu justru bisa dikhawatirkan bisa penularan COVID bisa terjadi," ujar Yasonna.

Selain itu, menurut Yasonna, Habib Bahar juga menyebut dirinya diperlakukan sesuai apa yang dibutuhkan. Habib Bahar juga tak mempermasalahkan jika dirinya berada di Lapas Nusakambangan.

"Sebetulnya apa yang kita lakukan memenuhi ketentuan peraturan, dan sampai sekarang tetap kita monitor. Bahkan Pak Dirjen PAS ketemu beliau beberapa waktu yang lalu, tiga minggu yang lalu. (Kata Dirjen PAS) 'Gimana Pak Habib apa kabar?'. (Dijawab) 'Oh saya baik-baik'. (Kata Dirjen PAS) 'Bagaimana kalau di-ini?'. (Dijawab) 'Oh buat sementara saya di sini saja ya', kan jawabannya begitu. Saya nggak tahu alasan mengapa, tapi dia mengatakan 'saya diberi perhatian, diberi ini treatment sesuai dengan apa yang saya butuhkan'," tutur Yasonna.

"Jadi saya kira yang lebih kadang-kadang yang tidak tahu di luar, kadang-kadang terlalu banyak hipotesa-hipotesa yang kadang kadang di luar fakta yang sebenarnya, Pak Ketua. Jadi langkah-langkah ini yang saya katakan waktu Pak Dirjen ke sana ke Nusakambangan, secara khusus saya katakan 'coba temui Pak Habib, coba tanya bagaimana beliau di sana', dan Pak Dirjen ketemu, itu fakta yang betul-betul tidak ada disembunyikan di sini," imbuhnya.

(azr/gbr)