Ratusan Burung Hasil Selundupan di Pangkalpinang Dilepasliarkan

Deni Wahyono - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 16:54 WIB
Burung-burung yang dilepasliarkan (Dok. Istimewa)
Burung-burung yang dilepasliarkan. (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Balai Karantina Pertanian Pangkalpinang, Bangka Belitung (Babel), melepasliarkan 430 ekor burung hasil penggagalan penyelundupan di Pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang. Satu jenis burung dari 430 ekor burung yang dilepas ke habitatnya merupakan satwa liar yang dilindungi.

"Dari total burung yang dilepasliarkan ke habitat asalnya, ada salah satu jenis burung dilindungi, yaitu burung Sepah Raja," kata Kepala Karantina Pertanian Pangkalpinang Saifuddin Zuhri kepada wartawan di Gedung Karantina, Senin (22/6/2020).

Ratusan ekor burung yang dilepasliarkan di kawasan hutan Kabupaten Bangka Tengah Bangka Belitung itu merupakan hasil tangkapan penyelundupan pada Minggu (21/6) di pelabuhan Pangkalbalam.

Menurutnya, ada beberapa jenis burung uang berhasil diamankan petugas, di antaranya jenis Kolibri Wulung sebanyak 419 ekor, Kolibri Ninja 8 ekor, dan burung Sepah Raja yang merupakan satwa liar dilindungi sebanyak 3 ekor. Burung tanpa dilengkapi dokumen akan dikirim ke Jakarta.

"Diamankan dari kapal angkut KM Sawita yang akan bertolak dari pelabuhan Pangkalbalam ke Tanjung Priok Jakarta. Burung-burung ini dikemas dengan menggunakan boks plastik ditemukan disalah satu ruangan kapal, saat pemeriksaan petugas karangtina juga didampingi kru kapal," tegasnya.

Lanjut Zuhri, pelepasliaran satwa ini merupakan suatu bentuk sinergi balai karantina dengan BKSDA dalam rangka melestarikan sumber daya alam. Bekerja sama dengan Polda Bangka Belitung, Dinas Kehutanan Babel, dan Animal Lover Bangka Islan (ALOBI).

"Pelepasliaran ini merupakan fungsi Karantina Pertanian dalam rangka mencegah masuknya hama penyakit hewan karantina dan melindungi kelestarian sumber daya alam salah satunya satwa dilindungi. Adapun yang lebih berwenangnya lebih kepada BKSDA," tutur Zuhri.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, pelaku penyelundupan diancam dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 2 miliar. Selain UU tersebut, pelaku juga dapat diancam dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

Hingga kini, petugas masih memburu pelaku pengiriman ratusan ekor burung yang akan diselundupkan ke Jakarta melalui pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang, Bangka Belitung.

(gbr/gbr)