Polisi-Jaksa Didemo Mahasiswa di Parepare Gegara Kasus Pencabulan Anak

Hasrul Nawir - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 13:58 WIB
Mereka memprotes kinerja polisi dan jaksa di kasus dugaan pencabulan anak.
Demo mahasiswa menuntut kejelasan kasus pencabulan anak. Foto: Hasrul Nawir/detikcom


Putrinya yang bingung bertemu sekelompok pemuda dan meminta tolong untuk mencari seorang sahabatnya agar bisa diantarkan pulang. Namun bukannya menolong, 7 orang pemuda ini malah mencabuli korban secara bergilir di sebuah kamar kos milik terdakwa berinisial G.

"Karena dua hari tidak pulang kami pun risau mencari, kebetulan memang saya tidak kasih hp ke anak saya, itu yang saya takutkan, makanya saya batasi pergaulannya dengan tidak memberi hp, akhirnya dia pulang diantar temannya, saya tanya dari mana kenapa tidak pulang dua hari, dia bilang dari rumah teman," tutur M.

Putrinya itu sempat menyembunyikan nasib naas yang menimpanya. Meskipun ibunya M menaruh curiga lantaran dia menemukan ceceran darah yang sudah berwarna kecoklatan di pakaian korban.

"Dia bahkan mengeluhkan sakit di bagian vital, bahkan susah buang air kecil, dia baru mengaku di kantor polisi 29 April 2020, lalu karena ada sedikit masalah sama temannya, Pak Polisi di sektor Ujung bilang ke saya, sepertinya anak ibu ada tekanan batin, pas ditanya baru dia mengaku," tutur M.

Kasus itu lalu bergulir ke meja hijau. Di persidangan, M merasa kesal karena pihaknya disudutkan oleh pengacara terdakwa. Kasus yang awalnya dirahasiakan ini pun akhirnya dibuka oleh M. Sidang pertama atas kasus pencabulan dan persetubuhan dibawah umur dirasakannya seperti memposisikan anaknya yang jadi korban justru merasakan menjadi 'pesakitan'.

"Anak saya yang menjadi korban, tapi saya merasakan seperti kayak anak saya yang menjadi terdakwa dalam persidangan, beberapa kali anak saya disudutkan oleh penasihat hukum terdakwa, sementara JPU seperti tidak berpihak ke kami, cuma hakim saja yang memotong pembicaraan penasihat hukum terdakwa saat anak saya disudutkan," beber M.

M mengatakan saat sidang pertama tidak dibacakan kronologis kejadian secara utuh, sehingga dia merasa seolah-olah menggiring fakta persidangan bahwa anaknya memang berkeliaran di atas jam 3 dini hari.

"Padahal , anak saya sebelum disekap dan diperkosa di kamar kos, terdakwa inisial G berteman, anak saya beberapa jam sebelumnya juga mengalami hal serupa terhadap pelaku lainnya yang masih buron, jadi di sini ada dua laporan polisi yang terpisah," beber M.

"Saya hanya didampingi oleh aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak saat laporan, visum dan pengobatan, setelah itu tidak ada lagi, bahkan sampai sekarang isi dakwaan dari JPU pun tidak pernah kami terima, visum juga tidak pernah saya lihat. Cuma saya dengar saat dibacakan di persidangan, namanya saya orang kecil buta masalah hukum," ungkapnya.

M berharap anaknya bisa mendapat perlakuan adil dan para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya.

"Pada laporan polisi pertama, terlapor inisial A masih buron, sementara laporan polisi kedua ada 4 orang yang telah diamankan, 2 buron dan 1 orang wajib lapor karena katanya buktinya tidak cukup kuat," terangnya.

M juga membeberkan baru mengetahui jika salah satu terdakwa dalam kasus asusila terhadap putrinya melibatkan anak seorang yang berpengaruh di Parepare.

"Saya hanya bisa berharap ada orang yang membantu saya dalam mencari keadilan, saya juga baru tahu katanya ada orang berpengaruh yang anaknya ikut terlibat dan menjadi terdakwa," tutupnya.


(tor/tor)