Asal-usul Hoax 'Hari Ini Kiamat' yang Bikin Heboh

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 21 Jun 2020 09:28 WIB
kiamat
Gambar ilustrasi, tidak berhubungan dengan berita (NASA)

Sebenarnya, orang-orang Suku Maya tidak pernah memprediksi akhir zaman melainkan hanya waktu berakhirnya kalender mereka karena siklusnya telah habis. Eric Mack dari Forbes menuliskan, ini sama seperti orang tua kita yang membuang kalender lama tiap Desember. Ini bukan pertanda apapun kecuali hanya pertanda dimulainya tahun baru.

Paolo Tagaloguin dalam cuitan yang telah dihapus berpendapat, selama ini orang telah salah tafsir terhadap kalender Suku Maya. Semula, orang menafsirkan kiamat versi kalender Maya jatuh pada 12 Desember 2012. Padahal, di kalender Gregorian yang umum dipakai sekarang, ada 11 hari yang berkurang tiap tahunnya.

Kalender Gregorian dipakai sejak 1752 hingga sekarang, alias sudah 268 tahun yang lalu. Maka 11 hari yang hilang dikalikan 268 tahun berarti 2.948 hari alias 8 tahun. Bila otak-atik ini dipakai, maka kiamat bukan terjadi pada 21 Desember 2012, namun 21 Juni 2020.

Dilansir SyFy, Astronomer bernama Phil Plait menjelaskan bahwa 21 Desember 2012 itu sebenarnya sudah merupakan hitung-hitungan hasil konversi kalender Maya, jadi tidak perlu dihitung ulang lagi dengan membandingkannya dengan kalender Julian.

"Tak ada alasan bahkan untuk membawa-bawa kalender Julian. Ini tidak masuk akal," kata Phil Plait.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar masyarakat tidak terpengaruh dengan isu kiamat 21 Juni 2020 itu. MUI menyebut berita itu tidak benar, karena tanda-tanda akan terjadinya kiamat belum ada.

"Saya tidak percaya besok kiamat karena tanda-tanda untuk itu belum ada," kata Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abas, ketika dihubungi detikcom.

MUI percaya dengan tanda-tanda kiamat seperti yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW, yakni ada asap, dajal, binatang besar, matahari terbit dari barat, Nabi Isa turun ke bumi, munculnya Ya'juj dan Ma'juj, tiga kali gempa bumi, dan api keluar dari Yaman sehingga menghalau manusia ke Padang Mahsyar.

"Karena tanda seperti yang ada dalam hadis Nabi tersebut belum ada maka umat Islam diharap untuk tidak terpengaruh oleh berita-berita tersebut," kata Anwar Abas.


(dnu/imk)