Kisah Bocah 12 Tahun di Bali Jadi Tulang Punggung Keluarga Urus Ibu yang Sakit

Angga Riza - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 17:26 WIB
Kisah Bocah 12 Tahun di Bali Jadi Tulang Punggung Keluarga.
Kisah bocah 12 tahun di Bali jadi tulang punggung keluarga. (Foto: dok. Istimewa)
Karangasem -

Bocah bernama I Putu Arsa Guna Wibawa (12) menjalani kesehariannya tak seperti anak-anak kebanyakan. Sepulang sekolah, Arsa harus kembali beraktivitas bekerja serabutan sebagai kuli batako demi menghidupi keluarganya.

Arsa diketahui tinggal di Desa Amerta Bhuana, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali. Saat ini Arsa masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Dia harus menjadi tulang punggung keluarga lantaran ibundanya terbaring di rumah sakit dan harus membiayai adiknya yang masih duduk di bangku kelas IV SD.



Ayah Arsa diketahui meninggal dunia empat tahun lalu akibat penyakit komplikasi. Sedangkan ibundanya dirawat di rumah sakit karena gejala stroke ringan.

"Dia hidup bersama keluarga, sama ibunya, sekarang ibunya kondisinya sakit. Akhirnya, karena ibunya sakit, dia setiap pulang sekolah, sekarang kan libur, kerja ya, angkat-angkat batako, ya kerja ringanlah untuk menambah menghidupi dirinya begitu, sama adiknya sama ibunya," kata Kepala Desa Amartha Bhuana I Wayan Suara Arsana saat dihubungi detikcom, Jumat (19/6/2020).

"Sekarang tangan kiri dan tangan kanan (si ibu) tidak bisa digerakkan, mungkin gejala stroke ringan dan komplikasi, dirawat di RS," ujar Arsana.

Sementara itu, menurut penjelasan dari Kepala Dusun (Kadus) Sukaluwih I Wayan Seriasa, ibunda Arsa sudah enam bulan sakit. Dia juga menceritakan, setiap kali bekerja serabutan, Arsa menerima upah Rp 30-40 ribu.

"Dikasih Rp 30 ribu, kayaknya dapat tapi nggak harian. Cuma kalau berapa kali ngirim dikasih Rp 30 ribu, tapi nggak sampai seharian. Kalau dihitung, ya Rp 30-40 ribuanlah," terang Seriasa.



Selain Arsa yang banting tulang untuk menghidupi keluarganya, sang adik ikut berjualan.

"Adiknya pulang sekolah dikasih sekitar Rp 20 ribu sama yang tetangganya yang punya usahanya mikro kecil itu, yang punya usaha keripik. Sebenarnya sih tidak bekerja, karena tidak boleh mempekerjakan anak di bawah umur tapi dia sengaja minta. Daripada bermain-main gitu, dia ikut bungkus-bungkus yang jajan itu, tapi ya tidak jadi pokok itu (membantu saja)," tambah Seriasa.

(idn/idn)