Wamenhan: Jika Pandemi Ibarat Perang, Ketahanan Pangan Jadi Alat Tempur

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 01:28 WIB
Sakti Wahyu Trenggono (Andhika Prasetia/detikcom)
Foto: Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono mengingatkan pentingnya meningkatkan ketahanan pangan. Hal itu untuk mengantisipasi munculnya dampak serangan wabah penyakit di masa depan.

"WHO menyatakan virus baru itu terus bermunculan. Jadi, seandainya pandemi COVID-19 ini usai, tak menjamin di masa depan wabah penyakit baru tak muncul. Karena itu indikator ketahanan pangan harus kita tingkatkan di masa depan untuk mengantisipasi serangan wabah penyakit," kata Trenggono dalam keterangannya, Kamis (18/6/2020).

Trenggono mengibaratkan pandemi seperti halnya perang. Untuk menghadapinya, menurutnya, perlu cadangan makanan yang cukup sebagai peralatan tempur.

"Jika pandemi diibaratkan dengan suasana perang, maka dibutuhkan peralatan tempur yang kuat untuk melawan. Peralatannya di sini salah satunya cadangan pangan yang panjang. Sekarang itu di komoditas beras kita hanya kuat untuk 69 hari, bandingkan dengan India yang bisa setahun. Karena itu, kami dari Kemhan sedang mengajukan satu model yang bisa meningkatkan ketahanan pangan nasional," ujarnya.

Menurut Trenggono, model atau strategi yang dipilih Kemhan adalah membuat lahan khusus untuk ketahanan pangan nasional. Jika rencana pengadaan lahan terealisasi, Trenggono berharap strategi itu bisa menyumbang sekitar 20 persen cadangan pangan nasional.

"Kita ingin mengoptimalkan lahan ini agar tidak menjadi opportunity loss bagi negara. Rasionalisasi kawasan hutan adalah faktor penting bagi kelestarian pengelolaan hutan dan menjadi enabler untuk pembangunan nasional," ujar Trenggono.

"Jika rencana pengadaan lahan pangan ini terealisasi, bisa menyumbang sekitar 20% bagi cadangan pangan nasional nantinya. Kita pastikan ini memang untuk ketahanan pangan, jadi kawasan yang dipilih tidak boleh berubah fungsi dari kawasan tanaman pangan yang akan kita kembangkan," imbuhnya.

Lebih lanjut, Trenggono mengatakan jika terjadi pandemi yang berujung krisis, ada sejumlah hal yang paling rentan terkena dampaknya. Pertama, muncul pengangguran karena kegiatan ekonomi dipaksa berhenti, kedua adalah masalah ketersediaan pangan, dan ketiga adalah ketahanan kesehatan.

"Kalau ketiga hal ini tak bisa dikelola dengan baik, bisa berpengaruh kepada ketahanan dan kedaulatan negara secara keseluruhan. Karena itu semua elemen bangsa perlu bekerja sama secara serius melawan ancaman pandemi agar ketahanan nasional terjaga," tegasnya.

(azr/azr)