Ombudsman Ungkap 'Orang Meninggal' Jadi Penerima Bansos di Kalbar

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 18 Jun 2020 14:52 WIB
Ketua Ombudsman, Amzulian Rifai
Amzulian Rifai (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Ombudsman menerima sejumlah aduan terkait bantuan sosial dari masyarakat terdampak COVID-19. Ombudsman menyebut adanya data orang yang sudah meninggal di Kalimantan Barat tapi tercatat sebagai penerima bansos.

"Di Kalimantan Barat, misalnya, Ombudsman mendapatkan pengaduan terkait dana bantuan langsung tunai mulai dari nilai bantuan di bawah standar Kemensos (hingga) data orang meninggal tapi sudah tercatat sebagai penerima bantuan," ujar Ketua Ombudsman Amzulian Rifai dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2020).

Sementara itu, Amzulian juga mendapatkan aduan terkait mahalnya tarif rapid test hingga swab test di Kalimantan Utara. Amzulian menduga adanya oknum-oknum yang memanfaatkan momen pandemi Corona ini.

"Ombudsman menerima aduan terkait tingginya tarif rapid test dan PCR untuk swab tes di beberapa provinsi, tapi di antaranya terjadi di Kalimantan Utara, tingginya tarif tersebut memberikan dugaan pihak-pihak tertentu yang kemungkinan saja mengambil kesempatan atas adanya ketentuan yang mewajibkan seseorang yang akan berpergian harus tes dahulu," imbuh Amzulian.

Amzulian meminta pemerintah mengevaluasi terkait adanya temuan tingginya tarif tes Corona "Terkait harga rapid test dan PCR test yang tinggi, Ombudsman meminta pemerintah untuk melakukan intervensi terkait besaran tarif agar tidak membebankan masyarakat," ungkap Amzulian.

Tak hanya itu, Amzulian juga mengomentari lamanya masyarakat menerima hasil tes swab. Hal itu, menurutnya, jadi pemicu adanya sejumlah penolakan pemakaman dengan protokol COVID-19.

"Kami mendapat laporan terkait beberapa rumah sakit yang tidak transparan dan kurang memberikan informasi yang sepatutnya terkait hasil PCR, dari berbagai kasus di lapangan, adanya masyarakat yang tidak patuh pemakaman protokol COVID misalnya terhadap almarhum orang yang dicintainya, sebenarnya bisa diatasi, seandainya saja hasil swab test itu dapat diterima beberapa jam bukan hitungan hari atau minggu. Ini kalau jadi perhatian, tentu tidak akan terjadi," tuturnya.

(isa/tor)