Sekali Ketok, PT Pontianak Vonis Mati 3 Mafia Sabu Jaringan Malaysia

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 18 Jun 2020 13:18 WIB
Palu Hakim
Ilustrasi Palu Hakim (Rachman Haryanto/detikcom).
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), mengetok palu dengan keras. Sekali ketok, tiga mafia sabu langsung dihukum mati.

Mereka yang divonis mati adalah Ersa Bagus Pratama Putra (27), Irwanto Tambunan (35), dan Rudy (50).

Kasus bermula saat Ersa menerima order mengambil 10 kg sabu dari Malaysia pada Mei 2019. Sabu itu merupakan sabu kiriman dari Malaysia. Rencananya, sabu itu dikirim dengan tujuan akhir ke Bali lewat jalur darat.

Ersa kemudian berangkat ke Malaysia menggunakan pesawat terbang pada 15 Juni 2019. Setelah mendapat paket 10 kg sabu, Ersa segera kembali ke Indonesia lewat jalur laut.

Ersa naik sebuah speed boat dari Tanjung Datuk, Malaysia. Setibanya di perbatasan Indonesia-Malaysia, Ersa dijemput oleh Irwanto dan Rudy. Mereka bertiga langsung tancap kemudian menuju Singkawang yang ditempuh selama 18 jam.

Sesampai di Pantai Gosong, Singkawang, Ersa-Irwanto-Rudi bergegas pindah ke sebuah mobil yang sudah disiapkan. Ketiganya meluncur lewat darat menuju Pontianak.

Saat melintas di Mempawan, mobil terkena razia polisi. Ketiganya tidak berkutik saat di dalam mobil itu ada tas yang berisi sabu. Mau tidak mau, ketiganya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka hakim.

Siapa nyana, pada 16 April 2020, Pengadilan Negeri (PN) Mempawah hanya menjatuhkan pidana penjara seumur hidup kepada Ersa-Irwanto-Rudy. Jaksa yang menuntut hukuman mati tidak terima dan mengajukan permohonan banding.

"Menjatuhkan Pidana terhadap Para Terdakwa oleh karena itu masing-masing dengan Pidana Mati," ujar majelis PT Pontianak sebagaimana dilansir website MA, Kamis (17/6/2020).

Duduk sebagai ketua majelis Erry Mustianto dengan anggota Jhon Butar Butar dan Krisnugroho Sri Pratomo. Majelis menegaskan peredaran gelap narkotika sudah merupakan sindikat perdagangan internasional dan menjadikan kawasan Indonesia, khususnya Kalimantan Barat sebagai pasar gelap perdagangan narkotika. Hal ini dapat dibuktikan banyaknya WNI yang bekerja sama dengan WNA khususnya WN Malaysia untuk memasukkan narkotika ke Indonesia melalui Pontianak.

"Terdakwa I, Terdakwa II dan Terdakwa III masing masing telah menunjukkan adanya kerjasama dan saling pengertian untuk mewujudkan suatu perbuatan secara terorganisir, dengan dipandu oleh Agus, sehingga perbuatannya tersebut dapat terlaksana dengan sempurna. Yaitu pengiriman/memasukkan narkotika dari Malaysia ke yang masing-masing telah menerima upah dari seorang bandar di negara Malaysia," cetus majelis tinggi.

Selain itu, kejahatan narkotika sudah sangat membahayakan kehidupan masyarakat bangsa dan negara, karena penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika telah secara massif menjalar dan merusak seluruh lapisan masyarakat dari golongan atas sampai dengan masyarakat pedesaan.

"Kejahatan narkotika telah merusak sumber daya manusia sebagai salah satu modal pembangunan nasional khususnya para generasi muda penerus bangsa, oleh karena itu penyalahgunaan narkotika harus ditindak secara tegas oleh aparat penegak hukum untuk melindungi seluruh masyarakat dan menyelamatkan bangsa dan rakyat Indonesia dari bahaya narkotika," pungkas majelis tinggi.

(asp/elz)