Unik, di Daerah Ini Ada SPBU Terapung di Atas Kapal

Nurcholis Maarif - detikNews
Rabu, 17 Jun 2020 23:17 WIB
SPBU terapung di Kayong Utara
Foto: Nurcholis Maarif/detikcom
Kayong Utara -

Warga Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar), yang hendak mengisi premium buat motornya atau membeli solar buat modal melaut, kini bisa datang ke dermaga yang ada di pesisir Dusun Tanjung Satai.

Sebab kini sudah ada SPBU Kompak di atas kapal yang menyediakan BBM Bersubsidi dengan harga yang terjangkau. SPBU terapung ini diperuntukkan buat warga dan terutama nelayan Pulau Maya yang selama ini terkendala dengan BBM.

Mulai dari ketersediaan hingga harga yang lebih tinggi, yaitu bisa sama dan lebih dari Rp 10 ribu. Sementara harga solar di SPBU Kompak, yaitu Rp 5.150 per liter dan untuk premium, yaitu Rp 6.450 per liter.

SPBU ini tidak berdiri di daratan, tetapi di atas kapal dan berbentuk seperti ponton yang terapung di dermaga Tanjung Satai. Sementara kapal tersebut terdiri dari empat kompartemen untuk menampung berbagai jenis BBM dan setiap kompartemen bisa menampung 100 KL.

SPBU Kompak memiliki dua nozzle (untuk premium dan solar) dan memiliki selang yang lebih panjang jika dibanding SPBU yang ada di daratan. Selang ini untuk menjangkau warga yang ingin mengisi di daratan atau mengisi ke kapal nelayan.

Menurut Kepala BPH Migas, M Fanshurullah Asa, SPBU Kompak merupakan yang pertama dari target 83 titik pembanguanan lembaga penyalur BBM 1 Harga pada tahun 2020. Di Kalbar sendiri ada 26 titik target yang bakal direalisasikan selama rentang 2020-2024.

BPH MigasKepala BPH Migas M Fanshurullah Asa (Foto: Dok. BPH Migas)

Sebagai informasi, Pulau Maya dapat ditempuh lewat jalur darat dari Ketapang selama 1,5 jam dan ditambah menggunakan speedboat hingga 1 jam. Di sebelah baratnya ada Kepulauan Karimata yang langsung berhadapan dengan laut Bangka Belitung.

Pulau yang sebagian masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan ini juga masuk dalam wilayah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T).

Kata Ifan, sapaan akrab Fanshurullah, untuk pasokan BBM Bersubsidi buat warga Pulau Maya bakal menyesuaikan kebutuhan masyarakatnya.

"Tergantung. Kalau tadi berdasarkan data BPH Migas selama ini untuk SPBU 3T, kalau premium dan solar lebih kurang volume 2,5 ton per hari, solar 1,5. Saya gak tahu di sini datanya, katanha ada 500 kapal. Bisa jadi per bulan solar sekitar 60-100 KL, jadi sehari 3 ton," ujar Ifan.

Ia menyayangkan selama ini nelayan mendapat BBM dari pengecer dengan harga yang berbeda dan bahkan lebih dari Rp 10 ribu per liternya. Untuk itu, ia juga mengajak semua pihak ikut mengawasi pendistribusian BBM dari SPBU ini.

"Ini fokus di wilayah 3T, masalah keadilan ini amanah konstitusi. BBM subsidi jangan sekali-kali dijual ke industri, ini haknya masyarakat kita nelayan yang perlu dibantu, tolong dikawal," ujarnya.

(prf/ega)