Kolom Hikmah

New Normal, Lejitkan Multi-Channel Iman

Abdurachman - detikNews
Kamis, 18 Jun 2020 08:01 WIB
One day One Hadits Keutamaan sholat malam Lailatul Qadr
Foto: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

Sejumlah sahabat hebat di puasa Senin-Kamis sepanjang tahun sementara yang lain belum. Para sahabat yang lain senang bangun malam memelihara shalat tahajjud, sementara sebagian lain harus berusaha mengelola rizki di malam hari. Ada banyak yang hobi infaq di siang dan malam hari, sedang sebagian lagi memerlukan infaq untuk diri dan keluarga dalam kehidupan sehari-harinya.

Sekelompok sahabat semangat mengikuti shalat jemaah lima waktu di masjid, sebagian yang lain perlu waktu untuk mengelola usaha atau pekerjaannya. Banyak di antara sahabat yang di wajahnya selalu terlihat senyuman yang tulus serta sapaan salam yang menyejukkan. Sementara yang lain fokus memikirkan pekerjaan dan tanggungjawabnya.

Di bagian lain banyak sahabat yang bergegas dalam menyantuni anak-anak yatim dan fakir miskin, sebagian yang lain sibuk membahagiakan orangtuanya yang sudah lanjut usia.

Terserah yang mana yang dipilih, jika didasarkan iman kepada Allah swt., ditujukan untuk meneladani Rasulullah saw., semua itu termasuk cabang-cabang (multi-channel) iman.

Nabi saw bersabda bahwa iman itu terdiri dari enam puluh cabang lebih, salah satunya adalah menyingkirkan hal sekecil apa pun yang berpotensi membuat bahaya atau berpotensi menjadi hal negatif bagi kehidupan.

"Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan 'Laailaahaillallah', sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan". (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kisah Hikmah

Suatu ketika pada saat Nabi Musa bermunajat di bukit Thursina Allah berfirman, "Jika nanti engkau datang untuk bermunajat kepada-Ku, bawalah bersamamu suatu makhluk yang engkau merasa lebih mulia darinya."

Setelah itu Nabi Musa mencari makhluk yang dimaksud, ke segala penjuru. Di kalangan sesama manusia Nabi Musa mencarinya di sepanjang jalan, di pasar, juga di tempat-tempat ibadah. Di seluruh tempat yang Musa as. datangi selalu saja ditemukan suatu hal yang didapatinya pada orang lain lebih baik daripada yang ada pada beliau. Mungkin Musa as. memiliki sejumlah kelebihan, namun di sisi lain selalu saja ada hal yang istimewa pada selain beliau.

Lalu Nabi Musa mendatangi pasar budak, mungkin saja ia temukan manusia yang ia cari. Sementara melihat kehidupan para budak itu, Nabi Musa berkata dalam hati, "Walau para beliau budak, masih ada sekian kebaikan yang aku dapat mengetahuinya. Boleh jadi kebaikan itu mengungkit kemuliaannya di sisi Allah".

Sambil terus berjalan sehingga sampai arah pandangannya pada binatang. "Jika aku tidak berani memandang bahwa aku lebih mulia dari manusia lain, mungkin aku bisa lebih mulia dari binatang", gumam beliau dalam hati.

Setiap dipandang dan diteliti binatang yang beliau temukan, selalu saja ditemukan keistimewaan yang ada. Kupu-kupu begitu indah warnanya. Burung banyak yang memiliki keistimewaan; buruk merak begitu indah warnanya, sayap burung bisa bergerak dengan cepat, ada yang memiliki paruh menawan, suara yang merdu, kekuatan pandangan mata seperti burung elang. Pendek kata seluruh kelebihan senantiasa melintas di benak Musa as.

Sampai pada perjalanan kembali menuju bukit Thursina, bertemulah Musa as. dengan anjing kudisan di tempat sampah. Warna hitam, kotor, rambut gimbal awut-awutan, sepintas tak satu pun yang mengesankan istimewa sebagai suatu kelebihan. Seketika Nabi Musa hendak membawanya "menghadap" Tuhan, seketika itu si anjing tertawa menampakkan putih gigi geliginya. Sampai di situ Musa as. mengurungkan niatnya, serentak beliau bergumam "Indahnya gigi-gigi anjing itu".

Musa as. kembali 'lunglai' tampa membawa satu pun makhluk yang beliau merasa lebih mulia darinya, kecuali selalu ada hal yang istimewa dari setiap makhluk itu. Setibanya Musa as. ke tempat beliau biasa bermunajat, Allah swt berfirman, "Wahai Musa, apakah engkau telah membawa apa yang telah diperintahkan?". Nabi Musa menjawab, "Tuhanku, aku tidak menemukan sesuatu yang Engkau perintahkan". Kemudian Allah berfirman,"Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, andai engkau membawa satu saja (yang engkau menganggap dirimu lebih mulia darinya) maka akan Aku hapus namamu dari daftar nama para Nabi."

Kisah hikmah Nabi Musa mengantar manusia meneladani beliau, yaitu tidak pernah merasa diri lebih mulia dari siapa dan dari apa pun. Rasa lebih mulia, sedikit apalagi banyak, akan mematahkan sumpah sebagai hamba. Sumpah dalam syahadat "Asyhadu an laa ilaaha illaa Allah", tiada Tuhan selain Allah. Sumpah persaksian bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan otomatis menjadikan diri yang bersaksi sebagai hamba. Bukankah konsep hamba ialah bahwa ia tidak memiliki apa pun, ilmu, fisik apalagi harta. Semuanya milik Tuhan, termasuk kemuliaan jika ada.

Era new normal adalah era baru yang ditandai kehidupan yang lebih bersih dari kehidupan normal sebelumnya. Bersih fisik dan bersih nonfisik. Bersih nonfisik antara lain bersih dari sombong, merasa diri lebih mulia dari yang lain.

Kalau begitu, era new normal merupakan kehidupan baru yang memberi kesempatan masing-masing kita untuk melejitkan diri melalui berbagai cabang iman. Sibuk memperbaiki diri tampa repot mengevaluasi orang lain dalam kebaikan yang sama-sama diridloi Allah swt.

Allaahumma jadikan masing-masing hamba menjadi yang terbaik sesuai dengan passion kami di dalam ridlo Engkau, aamiin!

Abdurachman

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel merupakan tanggung jawab pembaca selaku penulis. -Terimakasih (Redaksi)-

(erd/erd)