Bertemu Keponakan Osama bin Laden yang Seksi
Minggu, 25 Des 2005 14:00 WIB
Jakarta - Perempuan yang bercita-cita jadi bintang pop ini adalah sebuah gambaran yang menggoda. Berpose untuk majalah khusus pria, dia berbaring di atas tempat tidur cukup dengan lingeri, asesoris bulu, dan sepatu hak tinggi.Dia lalu berubah pose, tengah memegang segelas anggur di tengah bath up yang penuh gelembung. Dia lantas bergaya dengan mengenakan pakaian yang berkibar-kibar, dengan sebuah gitar di antara kakinya.Tentu pose seperti itu tidak terlalu istimewa di kalangan para model. Yang membedakan, model yang berpose di atas adalah Wafah Dufour, keponakan Osama bin Laden, pria paling dicari oleh AS.Pose-pose seksinya seperti di atas, yang akan terpampang di Majalah GQ edisi mendatang, bisa jadi akan memicu kemarahan para pemuka Islam tradisional. Apalagi sang paman, Osama, adalah orang yang memegang nilai bahwa perempuan sudah sewajarnya tinggal di dalam rumah.Namun itu semua tidak relevan bagi Wafah yang kini 26 tahun. Dia juga bilang, tidak pernah berjumpa dengan Osama. Dan dia memutuskan memakai nama gadis ibunya pascaserangan 11 September di AS empat tahun lalu."Semua orang mengaitkan saya dengan pria itu (Osama) dan saya tidak ada sesuatu pun yang dikerjakan dengan dia," tegasnya seperti dilansir media Singapura, newpaper.asia1.com.sg, Minggu (25/12/2005)."Ada 400 orang yang berkaitan dengan dia, namun mereka semuanya ada di Arab Saudi, saya hanya satu yang ada di sini," sambungnya.Wafah menetap di New York dan menuntut ilmu di Sekolah Hukum Columbia. Dia adalah putri dari Yeslam, saudara tiri Osama. Yeslam dan Osama adalah dua dari 54 anak Mohammed bin Laden, pria Arab Saudi yang memiliki sejumlah perusahaan konstruksi, yang mengubah wajah Timur Tengah.Ketika serangan 11 September 2001 terjadi, Wafah sedang mengunjungi ibunya di Swiss. Dia berulang-ulang mendengar berita serangan di New York tersebut."Mereka mulai mengatakan bin Laden yang melakukannya dan saya jadi mati rasa karena saya tidak percaya dengan apa yang terjadi di New York," kata Wafah. "New York adalah rumah saya."Wafah juga merasa malu dan prihatin tentang apa yang dipikirkan orang-orang tentang keluarganya. "Ini sungguh keluarga yang besar. Namun di AS atau di Eropa, orang-orang tidak menyadari bagaimana besar keluarga saya tersebut dan berapa banyak kerabat yang ada," curhatnya.Buntutnya, Wafah depresi dan lebih banyak berada di tempat tidur selama 6 bulan setelah serangan 11 September.Wafah lahir di California, tempat ayahnya bersekolah. Namun orangtuanya kembali ke Arab Saudi ketika Wafah masih sangat muda. Di sana, dia bersekolah di sekolah yang semua muridnya perempuan dan menghafal Al Quran. Dia juga diwajibkan mengenakan kerudung.Ketika Wafah berumur 10 tahun, ibunya meninggalkan sang ayah dan pindah ke Swiss bersama tiga anak perempuannya. Wafah lantas sekolah di bidang hukum, pertama kali di Jenewa, lalu di New York. Namun dia sadar bahwa dunia hukum bukanlah untuknya.Setelah 11 September, tawaran pekerjaan menjauh darinya meskipun dia telah memiliki gelar master hukum. Dia akhirnya menggunakan nama gadis ibunya dan memutuskan untuk menjadi penyanyi.Dia tidak yakin bisa rekaman jika tetap menggunakan nama bin Laden. Nama itu mengandung beban berat pascaserangan 11 September.Hidup Wafah juga tak jauh dari ancaman. Penelepon gelap sering mengancam akan membunuhnya. Teman-teman juga berhenti meneleponnya.Tahun lalu, ibu Wafah menulis tentang kehidupannya di dalam lingkungan rumah tangga bin Laden. Dia mengcounter Osama lewat bukunya yang laris, The Veiled Kingdom. Wafah tidak khawatir pada kariernya. "Saya rasa dalam musik, bakat adalah hal yang paling penting. Bila saya tidak memiliki bakat, well, saya tidak akan bisa pergi ke mana pun," begitu kata Wafah.
(nrl/)











































