Gugus Tugas Minta Tokoh di Daerah Kenalkan 'New Normal' dengan Bahasa Lokal

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Rabu, 17 Jun 2020 10:55 WIB
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Letjen TNI Doni Monardo (YouTube BNPB)
Foto: Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo (YouTube BNPB)
Jakarta -

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mengatakan masih banyak masyarakat di daerah yang belum memahami istilah 'new normal' atau kenormalan baru dalam menghadapi virus Corona. Gugus Tugas pun meminta para tokoh di daerah mengenalkan 'new normal' dengan bahasa daerah yang mudah dipahami masyarakat.

"Memang kata-kata new normal ini belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Oleh karenanya kita berharap setiap tokoh-tokoh di daerah mampu menggunakan bahasa yang tepat untuk disampaikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak salah paham," kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo dalam rapat dengar pendapat umum Komisi X yang digelar virtual, Rabu (17/6/2020).

Menurut Doni, masih ada yang menganggap new normal bisa beraktivitas kembali seperti sebelum pandemi. Karena itulah, dengan penjelasan berbahasa daerah, Doni berharap masyarakat bisa lebih memahami konsep new normal.

"Ada sebagian masyarakat yang menganggap new normal ini berarti bisa kembali beraktivitas seperti sebelum kejadian tanggal 13, atau sebelum ditetapkannya status pandemi oleh pemerintah. Tentu ini mengkhawatirkan," ujar Doni.

"Sehingga dibutuhkan cara dan setiap daerah tentu mungkin memiliki cara yang berbeda, termasuk juga penggunaan bahasa-bahasa lokal, bahasa daerah yang tepat, sehingga masyarakat juga bisa memahaminya," lanjut dia.

Tak hanya new normal, istilah-istilah lain seperti social distancing menurut Doni juga belum banyak dipahami masyarakat. Karena itulah, Doni meminta para tokoh di daerah menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami.

"Demikian juga istilah-istilah social distancing, physical distancing, harus mampu diterjemahkan oleh para pemimpin di daerah dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat," ujarnya.

Doni mengatakan sikap gotong royong di masyarakat untuk mencegah penyebaran COVID-19 bisa mengurangi risiko penyebaran virus tersebut. Namun, menurut Doni, hal itu tidak cukup karena masih banyak masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan.

"Walaupun ini dirasakan masih belum cukup, mengingat masih tingginya tingkat ketidakpedulian masyarakat, khususnya masalah disiplin untuk mematuhi protokol kesehatan. Ini menjadi kewajiban kita, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk selalu setiap saat mengingatkan masyarakat, bahwa ancaman COVID belum berakhir. Bahwa setiap orang akan bisa dengan mudah terpapar COVID kalau tidak memperhatikan protokol kesehatan," tegas Doni.

"Tidak menggunakan masker, tidak mau jaga jarak, tidak mau cucui tangan dan bagaimana meningkatkan imunitas tubuh masing-masing. Khusus jaga jarak adalah salah satu kata yang sangat mudah diucapkan, tetapi sangat sulit dilakukan dibandingkan menggunakan masker, dan juga mencuci tangan," pungkasnya.

Tonton video 'dr. Reisa Jawab soal 'Apakah COVID-19 Benar-benar Ada?'':

(azr/fjp)