Misa Natal di Yogyakarta Aman

Misa Natal di Yogyakarta Aman

- detikNews
Minggu, 25 Des 2005 00:30 WIB
Yogyakarta - Misa malam Natal di sejumlah gereja di Kota Yogyakarta, Sabtu (24/12/2005) malam hingga pukul 21.00 WIB, berlangsung hikmad dan aman. Ribuan umat Kristiani sejak sore hingga malam hari membanjir sejumlah gereja yang menggelar misa.Dari pantauan detikcom, hingga pukul 21.00 WIB, misa di sejumlah gereja seperti gereja di Kota Yogyakarta dilakukan tiga kali, yakni pukul 17.00 WIB, pukul 19.30 WIB dan pukul 21.30 WIB. Meski cuaca sempat mendung, ribuan umat Katolik dengan tertiba mengikuti acara kebaktian hingga usai.Misa Natal di Gereja Santo Antonius Kotabaru Kecamatan Gondokusuman dipadati ribuan umat Katolik. Jalan menuju gereja dari berbagai arah sudah ditutup sejak sore oleh petugas. Akibatnya kendaraan roda empat maupun roda dua milik para jemaat terpaksa diparkir sekitar 200 meter dari gereja di kawasan Stadion Kridosono."Sampai malam ini situasi masih aman. Umat Katolik yang akan mengikuti misa masuk ke gereja dengan tertib, meski petugas keamanan memeriksa semua tas yang dibawa," kata Iptu Alfian Wakapolsek Gondokusuman yang juga menjadi penangungjawab keamanan di Gereja Santo Antonius kepada detikcom.Sementara itu Perayaan Natal di Gereja Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran, Kecamatan Bambnglipuro Kabupaten Bantul dilakukan menggunakan Bahasa Jawa. Misa Natal di Gereja Ganjuran dimeriahkan dengan pementasan sendratari "Sang Juru Selamat" untuk mengenang kisah kelahiran Yesus.Sendratari tersebut digelar pada misa pertama pada pukul 17.00 WIB dengan melibatkan anak-anak dan remaja Katolik sekitar Ganjuran. Pementasan sendratari itu bertempat di pelataran candi Gereja Ganjuran yang berbentuk seperti candi. Pementasan sendratari ini baru pertama kali dilakukan di Ganjuran. Namun kalau misanya menggunaan Bahasa Jawa sudah sejak awal ketika gereja ini didirikan pada tahun 1930-an," kata Romo FX Wiyono Pr seusai memimpin misa.Selain menggunakan Bahas jawa kata Wiyono, misa natal juga dilakukan dengan nuansa Jawa mengingat sebagian besar umat Katolik di Ganjuran adalah para petani pedesaan. Para petugas atau panitia perayaan juga berpakaian adat Jawa. "Bahkan seluruh lagupun kebaktian juga berbahasa Jawa dengan diiringi gending-gending Jawa," katanya. (mar/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads