Hendropriyono Sebut Sultan Hamid II Pengkhianat, Ini Penjelasannya

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 15:36 WIB
Jenderal (Purn) Hendropriyono (Mantan Kepala BIN),
Hendropriyono. Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono diadukan ke Polda Kalbar terkait pernyataannya menyebut Sultan Hamid II pengkhianat. Pihak keluarga Sultan Hamid menyebut pernyataan Hendro tidak tepat.

Hendropriyono mengatakan setiap tahun pihak keluarga mengajukan Sultan Hamid II sebagai pahlawan nasional. Hendro selalu menentang pengajuan itu.

"Saya nasihati jangan. Dia itu bukan pahlawan kok," kata Hendro kepada wartawan, Selasa (16/6/2020).


Hendro menyebut keluarga Sultan Hamid II bergerak di dunia maya untuk menyesatkan opini publik dan hendak mempolitisasi sejarah. Dia juga menyebut pengakuan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang Burung Garuda adalah palsu belaka.

"Pengakuan mereka palsu bahwa Sultan Hamid II Alkadrie perancang simbol Negara Burung Garuda. Perancangnya itu dulu tim. Dia hanya koordinatornya. Keputusan burung gambarnya begitu adalah oleh Dwi Tunggal Sukarno-Hatta. Bukan dia. Hakikat simbol adalah frasa Bhinneka Tunggal Ika, tapi itu kan karangan Mpu Tantular abad IV, bukan juga karangan dia," papar Hendro.

Hendro juga menyebut dirinya dituduh rasis oleh pihak keluarga. Dia membantah tuduhan ini.

"Mereka menuduh sewenang-wenang saya sebagai rasialis. Bagaimana mungkin itu, wong saudara semenda saya juga banyak orang Arab. Jangan ngomong sembarangan ah," ujar Hendro.

"Hamid Algadrie (alm) saya kenal baik dan hormati sangat tinggi. Dia perintis kemerdekaan. Anaknya Maher adalah sahabat saya. Sadik Alkadrie juara judo nasional adalah binaan saya. Fuad Bawazier sudah seperti saudara sama saya. Quraisy Shihab sahabat saya banget yang pernah dalam satu kabinet. Dari mana ujung pangkalnya menuduh saya rasialis?" sambung Hendro.

Hendro mengatakan tak tahu menahu soal video berjudul 'Pengkhianat, Kok Mau Diangkat Jadi Pahlawan? | Part 1 A.M Hendropriyono' yang tayang di channel Youtube Agama Akal TV. Dalam video itu, Hendro menyebut Sultan Hamid II tak senang Indonesia menjadi negara kesatuan dan lebih senang bentuk federalis karena tetap ingin menjadi Sultan Pontianak. Soal video tersebut, Hendro mengatakan seharusnya yang diadukan pengunggah video.

"Ya marah dong sama yang mengunggah, jangan marah sama saya orang tua. Saya wajib mengingatkan kalau mau dengar, kalau nggak mau ya gapapa. Jangan marah sama orang tua, bisa kualat. Video yang membuat namanya saya lupa, tapi para pemuda muslim yang mewawancarai saya dengan iktikad baik, saya tanggapi apa adanya. Pertanyaannya juga waja, karena terkait usulan rutin seseorang untuk jadi pahlawan nasional," pungkas Hendro.

Tanggapan pihak keluarga di halaman selanjutnya

[Gambas:Youtube]

Selanjutnya
Halaman
1 2