Pemprov DKI Nilai Tren Urban Farming di Jakarta Meningkat Selama PSBB

Muhammad Ilman Nafi'an - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 13:59 WIB
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta Darjamuni
Foto: Muhammad Ilman/detikcom
Jakarta -

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta menilai masyarakat yang melakukan urban farming selama masa PSBB meningkat. Menurutnya, urban farming di Jakarta sudah menjadi tren meski belum meningkatkan nilai ekonomi.

"Kegiatan urban farming memang sedang tren, memang belum ekonomi, tapi minimal untuk lingkungan sekitar, mereka nggak bisa ke pasar (selama PSBB), alhamdulillah mereka senang dengan adanya kegiatan itu," ujar Kepala DKPKP Darjamuni saat rapat kerja bersama Komisi B tentang pelaksanaan dan pengawasan PSBB di DPRD DKI Jakarta, Selasa (16/6/2020).

Dengan semakin meningkatnya pelaku urban farming, DKPKP juga semakin banyak menerima permintaan benih dan pupuk. Menurutnya, permintaan benih tersebut diberikan secara gratis kepada masyarakat.

"Makanya permintaan benih, permintaan pupuk meningkat. Ini yang membuat saya senang tidak buat standar yang kemarin, jadi kita manfaatkan semua yang bisa kita manfaatkan seperti bahan bekas," katanya.

Di lokasi yang sama, Kepala Bidang Pertanian DKPKP Mujiati mengatakan saat ini ada 600 gang hijau, 300 karang taruna, ibu-ibu PKK serta 500 ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) yang sudah melakukan urban farming. Terbaru, DKPKP juga sudah memberikan beberapa pelatihan kepada serikat pekerja mengenai urban farming.

"Kalau orangnya ribuan, jadi jumlah pastinya karena kita hanya melihat titiknya, titiknya ada 600 gang hijau, satu gangnya mungkin rata-rata 10 orang berarti sudah 6.000, kemudian karang taruna itu ada 300 lokasi satu lokasi kalau kita hitung 5 orang itu berarti 1.500 orang kemudian PKK terus di RPTRA," kata Mujiati.

Mujiati menjelaskan, wilayah yang paling banyak melakukan urban farming berada di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Barat. Lokasinya pun bervariasi, ada di gang, di halaman rumah hingga di atap masjid.

"Bisa di halaman, bisa di atap. Kemarin di Jakarta Barat itu di atas masjid, di Tebet juga di atap masjid. Kemudian ada yang di gang, ada yang di depan rumah, ada yang di sekolah, SMA 70 juga ikut nanam. Taman-taman yang dulunya digunakan untuk tanaman hias sebaiknya dialihkan ke tanaman sayuran," ucapnya.

Mujiati mengatakan, yang paling banyak ditanam itu merupakan sayuran cepat panen. Misalnya, sawi, kangkung, kangkung yang memiliki masa panen kurang dari satu bulan.

(dwia/dwia)