MUI Yogya Tolak ATM Kondom
Sabtu, 24 Des 2005 19:21 WIB
Yogyakarta - Rencana penempatan ATM kondom di wilayah Yogyakarta menimbulkan pro dan kontra. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara tegas menyatakan menolak keberadaan ATM kondom di DIY. Alasannya, keberadaan ATM tersebut justru lebih banyak menimbulkan efek negatif dari pada positif. MUI DIY menilai ATM kondom itu banyak negatifnya. Kami juga menilai hal itu tidak baik," kata Ketua MUI DIY, KH Thoha Abdurrahman kepada wartawan di kantor MUI Jalan Kapas Semakin Yogyakarta, Sabtu (24/12/2005).Lagipula kata Thoha, MUI juga mengkhawatirkan hal itu malah disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak semestinya menggunakan. Dengan kata lain bila dibandingkan antara segi positif dan negatifnya, justru segi negatifnya lebih besar.Menurut dia, adanya ATM kondom akan cenderung disalahgunakan oleh orang-orang tertentu, seperti orang yang ingin berhubungan seksual dengan bukan suami atau istrinya dan para remaja yang berpacaran. Keberadaan ATM kondom justru akan memberikan kesempatan orang untuk berbuat yang tidak benar termasuk di kalangan remaja. "Sebenarnya kalau tidak disalahgunakan memang tidak apa-apa, monggo saja. Saat ini saja sudah banyak yang disalahgunakan. Itu alasan kami kenapa menolak ATM kondom," tegas Thoha.Staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga itu menambahkan bila ada yang beralasan ATM kondom diperlukan untuk mencegah penularan HIV/AIDS, maka langkah yang harus dilakukan adalah jangan berhubungan badan dengan orang lain yang bukan suami atau istrinya. "Yang harus kita perangi itu adalah pergaulan bebas yang jelas melanggar agama. Kalau mau mencegah penyakit kelamin ya jangan berhubungan dengan orang yang mengidap penyakit tersebut. Kalau sudah ingin berhubungan seksual, ya menikah saja," katanya.Berkaitan dengan perayaan Natal 2005 dan malam Tahun Baru 2006, MUI DIY mengimbau seluruh masyarakat di DIY, agar menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru ini, tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Bila ada hotel yang menyiapkan acara hiburan untuk memeriahkan Natal 2005 atau malam Tahun Baru hendaknya tidak perlu hura-hura. "Cukup dirayakan secara sederhana tetapi meriah sehingga tidak menimbulkan kecerumbuan," ujarnya.
(mar/)











































