Ketua MPR Usul Pengadaan IFNrec Milik Kuba yang Bisa Tekan COVID-19

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 15 Jun 2020 17:31 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai Indonesia perlu meningkatkan kerja sama di bidang kesehatan dengan Kuba dalam penanganan pandemi COVID-19. Sebagai salah satu negara dengan sistem kesehatan terbagus di dunia, Kuba bahkan berhasil mengembangkan immunity booster Recombinant Interferon Alpha 2B (IFNrec).

"Sambil menunggu vaksin COVID-19, Indonesia bisa bekerja sama dengan Kuba dalam pengadaan IFNrec sebagai salah satu back up menekan penyebaran COVID-19 dan berbagai penyakit lainnya," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (15/6/2020).

Sebab IFNrec, kata dia, di sana terbukti berhasil meningkatkan imunitas tubuh guna menekan penyebaran COVID-19 dan berbagai penyebaran penyakit lainnya, seperti kanker, infeksi terkait HIV, tumor, kutil kelamin, serta hepatitis tipe B dan C.

Mantan Ketua DPR RI ini menjelaskan sejak tahun 2017 Indonesia dan Kuba sudah memiliki MoU kerja sama di sektor kesehatan dengan fokus kerja sama di lima bidang. Pertama, pengembangan kerja sama medis dan produksi obat-obatan, termasuk vaksin. Kedua, kesehatan dan gizi ibu dan anak. Ketiga, penyakit menular dan penyakit tidak menular, termasuk malaria, demam berdarah, kanker, dan diabetes.

"Keempat, penelitian dan pengembangan bersama di bidang kesehatan terkait termasuk laboratorium, penelitian biofarmasi, bioteknologi, dan nanoteknologi. Kelima, pengembangan sumber daya manusia dan alih pengetahuan termasuk manajemen pelayanan kesehatan, pembiayaan, dan kebijakan kesehatan," ungkapnya saat bertemu Duta Besar Kuba untuk Indonesia Tania Velazquez Lopez, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta

"MoU tersebut tak boleh hanya berakhir di atas kertas saja. Melainkan harus diimplementasikan demi kebaikan kedua negara. Kemajuan sektor kesehatan di Kuba sangat luar biasa. Memiliki sistem universal health care yang menggratiskan penduduknya mengakses kesehatan, serta mengedepankan proses pencegahan penyakit ketimbang pengobatan, telah membuat rakyat Kuba tak terlalu menderita akibat pandemi COVID-19," ucap Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan salah satu keunggulan sistem universal health care yang dikembangkan Kuba yakni dengan merevolusi poliklinik menjadi berbasis komunitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, sejak 2002 sudah 241 poliklinik di Kuba mengalami revolusi.

"Tujuannya untuk menambah layanan yang sebelumnya hanya tersedia di rumah sakit. Sekarang, rata-rata poliklinik di Kuba menawarkan 22 layanan, termasuk rehabilitasi, sinar-X, ultrasonografi, optometri, endoskopi, trombolisis, layanan darurat, traumatologi, laboratorium klinis, keluarga berencana, kedokteran gigi darurat, perawatan ibu-anak, imunisasi, dan perawatan diabetes dan lansia," jelasnya.

Wakil Ketua Umum SOKSI memandang perlunya Indonesia mencontoh langkah Kuba tersebut dengan merevitalisasi berbagai puskesmas. Sehingga berbagai permasalahan kesehatan yang menyangkut hajat hidup rakyat, tak lagi menjadi kendala.

"Kuba mengembangkan diplomasi gaya baru untuk meningkatkan perannya dalam percaturan politik internasional. Bukan dengan kekuatan senjata ataupun komunitas ekonomi perdagangan, melainkan dengan diplomasi kesehatan. Mengirim berbagai dokter dan tenaga kesehatan ke berbagai penjuru dunia, Kuba telah menjadi negara yang keberadaannya patut diperhitungkan. Apalagi di tengah situasi pandemi COVID-19 yang sedang menyelimuti berbagai negara dunia, Kuba sudah mengirimkan 1.400 dokter ke sekitar 20 negara," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia berharap selain kerja sama di bidang kesehatan, kerja sama ekonomi juga penting untuk ditingkatkan. Sebagai sesama negara Gerakan Non Blok, Indonesia dan Kuba telah menjalin kerja sama yang baik sejak tahun 1960, sejak Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan Kuba di bawah kepemimpinan Presiden Fidel Castro.

"Nilai perdagangan Indonesia dan Kuba pada tahun 2019 sebesar USD 6,7 juta. Indonesia sangat kuat di produk kelapa sawit dan turunannya. Jika tak bisa menjual ke Uni Eropa, kita bisa jual ke Kuba dan negara-negara Amerika Latin lainnya," pungkasnya.

(mul/mpr)