In Memoriam Pramono Edhie Wibowo (3)

Ketika Jenderal Pramono Edhie Menolak Suap Rp 20 M

Sudrajat - detikNews
Minggu, 14 Jun 2020 19:04 WIB
Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo
Foto: Pramono Edhie Wibowo (Ari Saputra/detikcom)

Ia memaparkan kisah pengadaan teropong itu dalam bukunya, "Pramono Edhie Wibowo: Cetak Biru Indonesia ke Depan". Merasa aneh dengan tawaran itu, tulis Rajab, Pramono meminta stafnya mencari tahu soal harga teropong di pasar bebas. Dia mendapat laporan harganya Rp 19 juta. Tak puas dia lalu mengutus perwiranya ke AS. Ternyata harga dari pabriknya cuma Rp 9 juta per unit.

Hanya saja pihak pabrik menolak menjual langsung ke TNI-AD. Alasannya sudah terikat kontrak dengan broker di Singapura. Si broker lantai menawarkan harga menjadi Rp 24 juta per unit, dengan iming-iming Rp 4 juta diantaranya untuk Jenderal Pramono Edhie.

"Dengan nilai-nilai kejujuran yang dipegangnya, Jenderal Pramono Edhie menampik peluang komisi Rp 20 miliar tersebut," kata Rajab yang pernah menjadi wartawan Antara untuk peliputan di lingkungan TNI dan istana.


Selain jujur, Pramono Edhie juga dikenal hidup sederhana. Ketika menikahkan anak perempuannya, saat itu dia menjabat KSAD, dia tidak menggelar pesta. "Beliau juga biasa berpergian naik pesawat di kelas ekonomi," kata Rajab.

Pramono Edhie Wibowo pensiun pada 2013, dan kemudian terjun ke dunia politik. Pramono menjadi salah satu peserta konvensi calon presiden yang diadakan Partai Demokrat. Pramono Edhie berpulang pada Sabtu malam (13/6/2020) di RS Cimacan karena sakit Jantung. Adik ipar mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu dimakamkan di TMP Kalibata, berdampingan dengan makam sang kakak, Ani Yudhoyono, siang tadi.

Halaman

(jat/irw)