Wakil Ketua MPR Minta Pemerintah Segera Pastikan Kurikulum Baru

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 13 Jun 2020 21:48 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat meminta agar metode pembelajaran pada tahun ajaran baru 2020/2021 segera dipastikan. Hal ini terkait tahun ajaran baru akan segera dimulai dalam waktu dekat sehingga sekolah, orang tua, dan murid dapat mempersiapkan diri.

Selain itu, Lestari juga mengimbau agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan selama masa pandemi. Hasil evaluasi tersebut nantinya dapat dijadikan dasar dalam menentukan pola pembelajaran yang efektif di tengah pandemi COVID-19 ini.

"Saya berpendapat perlu mulai diperbincangkan mengenai kapan sekolah akan mulai dibuka dan sistem pembelajaran pada tahun ajaran baru ini. Sehingga sekolah, orang tua, dan murid bisa mempersiapkan diri," ungkap Rerie, sapaan akrabnya, dalam keterangannya, Sabtu (13/6/2020).

Lebih lanjut, Rerie menjelaskan, pemerintah dapat mencontoh pada Cambridge University untuk level perguruan tinggi dalam memberi contoh kepastian. Di tengah pandemi, Cambridge mengumumkan untuk meniadakan kuliah di kampus dan kuliah akan diselenggarakan secara online hingga musim panas 2021.

"Di tengah ketidakpastian berakhirnya wabah COVID-19 di Tanah Air, menetapkan pola belajar yang tepat dengan mempertimbangkan faktor penyebaran virus Corona yang masih terjadi, merupakan keputusan yang bijak," ujarnya.

Oleh karena itu, Rerie mengatakan, agar pemerintah dapat mendengarkan masukan dari para pakar pendidikan, kesehatan, bahkan psikologi anak dan orang tua dalam menentukan metode belajar mengajar yang tepat untuk saat ini.

Rerie juga meminta agar pemerintah daerah memperhatikan keluhan para orang tua murid terkait proses pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB). Sejumlah kendala teknis, seperti kesulitan saat pendaftaran online dan keluhan atas kriteria pendaftaran harus menjadi perhatian sehingga kekhawatiran orang tua tidak bertambah

"Pertimbangkan juga keluhan, baik dari sisi siswa, orang tua,dan guru sebagai pengajar, selama pemberlakuan belajar jarak jauh di masa wabah COVID-19," imbuhnya

Hal ini terkait adanya beberapa keluhan yang muncul mengenai sistem pembelajaran jarak jauh. Mulai dari siswa yang jenuh belajar di rumah, keterbatasan sarana internet, gadget, kekhawatiran dan keterbatasan pengetahuan orang tua, keterbatasan keterampilan guru dalam mengajar jarak jauh, serta hal teknis dan psikologis lainnya. Keluhan tersebut tentu perlu segera dicarikan solusinya.

"Demikian pula dengan dimulainya kembali aktivitas perkantoran di mana orang tua sudah banyak yang kembali bekerja. Hal-hal seperti ini juga perlu dipertimbangkan agar diperoleh metode yang komprehensif," katanya.

Menurutnya, waktu yang relatif pendek dan ancaman penyebaran virus Corona yang masih belum diketahui kapan berakhirnya memang membutuhkan keputusan yang cepat dan tepat. Dengan begitu, pendidikan dan anak-anak tidak akan terabaikan.

Ia juga berpendapat, sosialisasi masif mengenai pola belajar yang akan diterapkan pada tahun ajaran baru juga diperlukan. Hal ini agar orang tua, guru, pihak sekolah dan murid bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

"Jangan sampai ketika tahun ajaran baru dimulai banyak sekolah, orang tua dan murid yang tidak bisa melaksanakan sistem belajar yang ditetapkan," pungkasnya.

(prf/ega)