Recovery Anak Aceh Lebih Lambat Daripada Korban Tsunami Lain
Jumat, 23 Des 2005 16:33 WIB
Banda Aceh - Sebuah survei yang dilakukan UNICEF menyebutkan, setelah setahun tsunami, anak-anak di Aceh menjalani proses pemulihan yang paling lambat dibanding anak-anak di negara lain yang terkena tsunami, seperti di India, Srilanka dan Thailand. Pasalnya, anak-anak Aceh yang disurvei ternyata memiliki pandangan yang paling tidak optimistis akan masa depan mereka. Sepertiga dari mereka percaya bahwa hidupnya tidak akan membaik. Hal ini disebutkan, berasal dari kenyataan bahwa 69 persen anak-anak di Aceh yang ikut dalam studi ini setidaknya kehilangan satu anggota keluarganya. Demikian sebut UNICEF lewat rilisnya pada detikcom, Jumat (23/12/2005). Survei dilakukan oleh TNS, sebuah perusahaan informasi pasar global. Survei Studi Bantuan Tsunami UNICEF -- Pandangan dari anak-anak yang menjadi korban mengambil sampel 1.633 anak usia 8-17 tahun di empat negara yaitu Indonesia dalam hal ini Aceh, Srilanka, India dan Thailand. Masing-masing negara mengambil sampel sektiar 400 anak. Mereka yang terkena dampak lansung tsunami ini kemudian diminta mencurahkan pikiran dan perasaan mereka tentang peristiwa tsunami dan bagaimana masa depan mereka selanjutnya. Meski demikian, lebih dari dua pertiga anak-anak merasa kondisi mereka telah membaik dan lebih baik dibandingkan minggu-minggu awal setelah tsunami. "Di Provinsi Aceh, UNICEF bekerja keras untuk terus membantu anak-anak dalam hal pendidikan, kebutuhan kesehatan serta dukungan psikologis sehingga mereka dapat melanjutkan upaya membangun kembali kehidupan mereka. Informasi terakhir ini akan membantu program-program kami lebih banyak lagi tentang pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Gianfranco Rotigliano, Kepala UNICEF Indonesia. Dalam survei itu juga disebutkan, anak-anak paling sering menyebutkan bahwa kebutuhan terbesar mereka adalah bantuan untuk kembali dan tetap bersekolah. Hal ini diikuti oleh kebutuhan akan rumah, pakaian dan pekerjaan bagi anggota keluarga mereka. Persentase anak di setiap negara yang mengatakan mereka menginginkan tambahan bantuan pendidikan cukup tinggi: Indonesia (76%), India (66%), Srilanka (88%), Thailand (81%). Survei juga mengungkap bahwa banyak anak-anak masih merasa ketakutan. Lebih dari setengah anak-anak yang terlibat dalam survei di India dan Srilanka takut akan terjadinya gempa bumi atau tsunami lagi, dan 76% anak yang diwawancarai di Thailand takut kehilangan orang yang dicintainya. Lebih dari sepertiga anak yang disurvei di Indonesia mengaku sering merasa kesepian. Sementara itu, di Indonesia, 24% anak-anak yang diwawancara mengatakan mereka sering merasa lapar dan 19% berkata mereka tidak lagi makan secara teratur sejak tsunami. Penemuan ini memperlihatkan kebutuhan yang segera harus dipenuhi untuk mengatasi masalah gizi buruk pada balita di Aceh. Setidaknya seperempat sampai sepertiga anak balita di seluruh Indonesia mengalami gizi buruk. Pada bulan Maret, hasil penelitian UNICEF menemukan 38% anak-anak di Aceh mengalami kelambatan pertumbuhan.
(nrl/)











































