Round-Up

Pecah Rekor Kasus Baru Corona di Ibu Kota, Kritik ke Anies Mengemuka

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 10 Jun 2020 19:34 WIB
Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)

FKM UI

Epidemiolog dari Universitas Indonesia menganalisis, lonjakan 239 kasus baru di Jakarta itu disebabkan karena efek aktivitas lebaran hingga euforia yang timbul akibat pengumuman Gubernur Anies Baswedan.

Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Tri Yunis Miko Wahyono, menjelaskan soal rekor 239 kasus baru Corona di Jakarta yang terjadi pada Selasa (9/6) kemarin. Pertama, ini karena aktivitas warga Jakarta yang keluar rumah dan berinteraksi saat momen Lebaran. Hari Raya di bulan Syawal itu jatuh pada 23 dan 24 Mei lalu.

"Saat dua hari masa Lebaran, banyak orang di Jakarta keluar rumah," kata Tri kepada detikcom, Rabu (10/6/2020).

Kedua, ada arus balik pemudik yang meninggalkan Jakarta sebelum Lebaran tiba. Arus balik ini membawa virus Corona masuk ke Jakarta. Pengendalian Pemprov DKI berupa syarat Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) yang wajib dikantongi warga untuk masuk Jakarta dinilai tidak bisa membendung masuknya virus.

"Karena pulang mudik Lebaran, mau pakai SIKM atau mau tidak pakai SIKM, ya sama sajau kalau kembali ke Jakarta," kata Tri.

Ketiga, Tri menyoroti pengumuman Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada 4 Juni lalu. Saat itu, Anies mengumumkan angka reproduksi efektif kasus Corona di Jakarta sudah turun hingga 0,99. Anies kemudian memutuskan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi PSBB transisi.

"Saat itu Gubernur DKI mengumumkan akan dilakukan masa transisi, dan mengumumkan akan memberlakukan transisi mengarah ke new normal di Jakarta. Baru akan transisi new normal saja, tapi orang sudah lebih bebas," kata Tri.

Tri memprediksi, pelonggaran PSBB akan berakibat pada naiknya angka Rt yang semula sudah turun ke 0,99. Peningkatan kasus Corona juga terjadi karena orang-orang bingung dengan PSBB transisi.

"Kalau istilah PSBB digabung bersama 'transisi' maka itu membingungkan semua orang, baik orang menengah ke atas maupun menengah ke bawah," kata dia.

Efeknya, masyarakat menjadi terlalu bergembira usai pergerakannya dibatasi. Orang-orang mulai beraktivitas. Padahal, angka Rt sebesar 0,99 itu belumlah aman.

"Euforia waktu itu, karena saat itu diumumkan Rt 0,99 dan berhasil menurunkan. Iya lah, baru menurun sedikit," kata dia.

Tri menggunakan ukuran hitung-hitungan rata-rata kasus dengan rentang waktu per minggu. Soalnya, masa inkubasi virus Corona adalah 3 hingga 10 hari. Pada puncaknya, rata-rata kasus Corona di Jakarta adalah 700 kasus per minggu. Seminggu sebelum Anies mengumumkan penurunan Rt ke publik, kasusnya turun menjadi rata-rata sekitar 400 kasus per minggu. Tri menilai itu belum aman.

"Kalau mau aman betul, seharusnya 0 kasus baru. Tapi kalau mau menentukan angka aman relatif, marilah tentukan terlebih dahulu batas aman relatif tersebut. Kalau 400-an kasus per minggu, menurut saya itu belum aman," kata Tri.

Batas aman relatif menurutnya harus di bawah angka rata-rata 100 kasus per minggu. Misalnya, rata-rata 80 kasus per minggu.

"Kalau naik menjadi rata-rata 1.000 kasus per minggu, akan tambah repot, DKI akan kewalahan, seluruh rumah sakit akan menyerah, banyak dokter yang terkena, banyak perawat yang terkena. Jakarta akan kewalahan," kata Tri.

Halaman

(aan/dhn)