Petugas Tangkap Pelaku Perdagangan Online Burung Rangkong di Kaltim

Yovanda - detikNews
Rabu, 10 Jun 2020 16:05 WIB
Lima ekor burung Rangkong atau Enggang Julang Jambul Hitam dan satu ekor Burung Elang Ikan Kepala Kelabu diamankan bersama seorang tersangka berinisial S, yang merupakan warga Samarinda.
Burung rangkong yang diamankan (Yovanda/detikcom)
Samarinda -

Tim SPORC Brigade Enggang Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalimantan bersama Polisi Kehutanan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mengungkap perdagangan satwa lindung secara online. Satwa yang nyaris diselundupkan ini merupakan satwa paling dicari di China.

Lima ekor burung rangkong atau enggang julang jambul hitam dan satu ekor burung elang ikan kepala kelabu diamankan bersama seorang tersangka berinisial S, yang merupakan warga Samarinda. Modus operandi yang digunakan S adalah menjualnya secara online dan dikirim melalui travel tiap kota.


S diamankan di Jalan Ulin Gg 6 Blok B No 23 RT 24 Sungai Kunjang, dan tidak melawan ketika petugas menyergap. S kemudian mengaku kelima rangkong itu dia dapatkan dari Kabupaten Kutai Timur. Sedangkan elang dia dapatkan dari Provinsi Kalimantan Selatan.

"Ini merupakan komitmen BKSDA dan petugas Gakkum dalam mencegah penyelundupan satwa-satwa lindung. Kedua burung ini masuk dalam kategori Apendiks II, bukan tidak mungkin naik jadi Apendiks I jika penyelundupannya tidak dicegah," kata Subhan, Kepala Balai Gakkum, Rabu (10/6/2020).

Dijelaskan Subhan, rangkong merupakan satwa yang paling laris apabila dijual ke China. Pasalnya, rangkong memiliki paruh yang dipercaya dapat mengobati penyakit dalam. Penyebaran rangkong berada di wilayah Semenanjung Malaysia, Kepulauan Batu, dan Kalimantan, sehingga sangat gampang menemukan rangkong di wilayah Kabupaten Kutai Timur.

"Selain mengobati penyakit dalam dan racun, rangkong dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan bagi warga China, sehingga harga jualnya meningkat dan sangat mahal," jelasnya.



Untuk harga, lanjut dia, satu ekor rangkong dihargai Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Namun, jika diekspor ke luar negeri, harganya meningkat hingga jadi Rp 9 juta. "Harga fluktuatif, tergantung kondisi. Namun, dari segi estetika, rangkong memiliki ciri khas burung yang menarik dan bernilai tinggi," sebutnya.

Saat ini, Balai Gakkum tengah menyelidiki proses penjualan dan dari siapa satwa itu berasal, sehingga bukan tidak mungkin akan ada tersangka baru dalam kasus penyelundupan ini. "Kami tidak bisa menyebut terlalu jauh, untuk penyelidikan. Kita akan mencari tangan pertama yang menjual rangkong ini," pungkasnya.

Simak video 'Ratusan Hewan di Taman Satwa Cikembulan Garut Terancam Kelaparan':

(tor/tor)