Warga Banjarmasin yang Sempat Terjebak Lockdown di Nepal Kembali ke Tanah Air

Eva Safitri - detikNews
Rabu, 10 Jun 2020 02:56 WIB
Warga asal Banjarmasin yang sempat terjebak lockdown di Banjarmasin sudah tiba di tanah air.
Warga asal Banjarmasin yang sempat terjebak lockdown di Banjarmasin sudah tiba di tanah air. (Foto: dok Istimewa)
Jakarta -

Warga negara Indonesia (WNI) asal Banjarmasin yang sempat terjebak lockdown di Nepal kembali ke Tanah Air. WNI ini yang merupakan traveler yang terjebak selama kurang lebih 70 hari di Nepal.

Teddy Herianto namanya, dia yang awalnya berangkat bersama Adi Mardani hanya pulang sendiri ke Indonesia. Sementara Adi masih berada di Nepal dan tidak ikut pulang karena terkendala biaya.

Teddy bercerita saat dirinya mengetahui tidak bisa melakukan penerbangan untuk kembali pulang pada 26 Maret, dia terpaksa tinggal di Nepal, tepatnya di wilayah Kathmandu.

Dia tinggal di sebuah hotel sambil berkoordinasi terkait penerbangan dengan pihak KBRI Dhaka. Mengingat KBRI Dhaka belum bisa melakukan repatriasi WNI karena biaya, Teddy pun berusaha untuk mencari penerbangan dengan biaya sendiri.

"Jadi kita sudah koordinasi dengan KBRI Dhaka, cuma karena posisi di Khatmandu dengan KBRI itu jauh. Jadi kita didata hanya di Konsulat Jenderal di Khatmandu. Kami berusaha setiap hari cari info, kami kan ada grup KBRI. Ada repatriasi di Bangladesh tapi nggak mungkin kita ikut karena terlalu dekat waktunya terus ke India, hanya kendaraan dari Khatmandu ke India harus carter dan itu mahal," kata Teddy saat dihubungi, Selasa (9/6/2020).

"Karena kesulitan dan belum berhasilnya upaya KBRI karena mahalnya biaya bila di tanggung mandiri. maka belum bisa di Repatriasi WNI yang lainnya," lanjut Teddy.

Setelah kurang lebih 70 hari menunggu, alhasil Teddy bisa melakukan perjalanan pulang dibantu oleh salah seorang temannya yang juga treveler asal Jakarta. Teddy melakukan penerbangan dengan biaya mandiri pada 6 Juni.

"Melalui teman dari Eropa dan Mbak Anna saya ikut dalam usaha keluar dari Nepal dengan biaya yang cukup tinggi hingga WNI lainya belum bisa keluar dari jebakan lockdown di Nepal," ujarnya.

"Saya itu kemarin dapat info tanggal 6 Juni bisa, tanggal 2 Juni saya langsung PCR, karena PCR tes itu harus 3 hari baru keluar, tanggal 2 saya langsung bayar tiket. Sementara pakai uang pribadi. Ternyata di Nepal ini extend lockdown itu diperpanjang tiap minggu, terakhir kemarin dua minggu, sekarang sebulan, sekarang malah di close, udah nggak boleh ada pergerakan di bandara, jadi saya penerbangan terakhir," katanya.

Teddy mengatakan di Nepal masih tertinggal 20 WNI. Mereka tidak bisa pulang karena terkendala biaya.

"Jumlah terakhir data WNI di Nepal ada 22 orang, karena saya dan Mba Anna pulang jadi tersisa 20 orang. Merek tidak bisa pulang karena tidak cukup dana," ujarnya.

Teddy pun sampai di Jakarta pada 9 Juni. Dia melakukan perjalanan dengan 2 rute penerbangan yakni, Kathmandu-Doha-Amsterdam dan Amsterdam-Doha-Jakarta. Dia terpaksa tinggal di Nepal sejak 22 Maret-6 Juni.

Sebelumnya, Traveler ini berangkat ke Nepal tanggal 7 Maret 2020 dan merencanakan balik ke tanah air tanggal 26 Maret. Mereka tidak bisa pulang karena terlambat menerima informasi karantina wilayah. Sehingga akses keluar masuk Nepal ditutup sejak 22 April.

Dua warga Banjarmasin itu yakni Teddy Herianto dan Adi Mardani yang pada pertengahan Maret 2020 menjelajahi pegunungan Himalaya. Teddy Herianto yang tengah terjebak di Kathmandu, Nepal pun berharap bisa pulang ke Indonesia secepatnya.

"Hingga hari ini kami berharap bisa pulang kembali ke tanah air. Namun apa daya kami tak bisa keluar dan tertahan di negara orang. Karena sikon Nepal lockdown sesuai arahan Perdana Menterinya sejak 22 sampai 31 Maret 2020, terus diperpanjang hingga Mei," ujar Teddy saat dihubungi detikcom, Minggu (17/5).

(eva/rfs)